Media Kampung – Beberapa hari terakhir, pemadaman listrik di berbagai wilayah Pulau Jawa semakin sering terjadi, terutama pada petang hari saat aktivitas rumah tangga mencapai puncaknya. PLN telah meminta maaf dan menyebut penyebabnya adalah kendala pasokan batu bara untuk pembangkit. Namun, di balik penjelasan teknis itu, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana mungkin negeri yang kaya akan batu bara justru mengalami krisis pasokan untuk menghasilkan listrik?

Fenomena ini bukan sekadar gangguan teknis. Ia adalah gejala dari sistem energi yang masih rentan dan terlalu bergantung pada satu sumber. Lebih dari separuh pembangkitan listrik nasional bergantung pada batu bara, menurut data Kementerian ESDM. Ketika satu mata rantai pasokan terganggu—entah produksi, distribusi, atau kebijakan ekspor—dampaknya langsung terasa luas.

Ekonom Richard Auty memperkenalkan istilah resource curse atau kutukan sumber daya untuk menjelaskan paradoks ketika negara kaya sumber daya justru tertinggal dalam pembangunan institusi dan diversifikasi ekonomi. Kekayaan batu bara yang melimpah bisa menciptakan rasa aman semu, sehingga dorongan untuk membangun sistem yang tahan guncangan melemah.

Listrik kini telah menjadi kebutuhan primer baru, setara dengan pangan, sandang, dan papan. Dalam kehidupan modern, hampir seluruh aktivitas—dari bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga hiburan—bergantung pada aliran listrik. Pemadaman bukan hanya memadamkan lampu, tetapi juga produktivitas, penghasilan, dan kenyamanan psikologis. Bagi pekerja informal seperti penjual jus yang mengandalkan blender, satu pemadaman bisa berarti satu hari tanpa pendapatan.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi alternatif yang melimpah: matahari, angin, panas bumi, biomassa, hingga gelombang laut. Intensitas penyinaran matahari yang stabil sepanjang tahun membuat energi surya menjadi salah satu pilihan paling menjanjikan. Namun, transisi energi bukan sekadar proyek teknologi. Ia membutuhkan keberanian politik, investasi jangka panjang, dan tata kelola yang konsisten.

Pemadaman listrik ini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam: sistem energi seperti apa yang ingin kita wariskan? Apakah kita akan terus membangun masa depan dengan fondasi yang rapuh, atau berani membangun sistem yang lebih tangguh, beragam, dan berkelanjutan? Sebab, pada akhirnya, isu listrik bukan semata urusan energi. Ia adalah cermin cara sebuah bangsa membayangkan peradabannya sendiri.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.