Media Kampung – Blackout atau pemadaman listrik massal yang terjadi di Sumatra pada 22 Mei 2026 menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional. Gangguan pada jaringan transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai akibat cuaca buruk memisahkan sistem kelistrikan Sumatra Bagian Utara dan Tengah, sehingga menyebabkan pemadaman meluas hingga lebih dari 13 juta pelanggan terdampak.
Pengamat energi sekaligus Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, menyatakan bahwa gangguan berskala besar seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Negara maju seperti Australia Selatan, Inggris, Spanyol, dan Portugal juga pernah mengalami blackout serupa akibat gangguan transmisi dan cuaca ekstrem.
Sofyano menegaskan pentingnya percepatan pengembangan backbone kelistrikan Sumatra, termasuk penguatan jaringan transmisi 500 kV, 275 kV, dan 150 kV yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Langkah ini dianggap strategis untuk meningkatkan ketahanan dan integrasi sistem kelistrikan dari Aceh hingga Lampung agar lebih tahan terhadap gangguan dan mengurangi risiko pemadaman berskala besar.
Selain penguatan jaringan transmisi, pengembangan pembangkit listrik fast response, modernisasi sistem proteksi, dan pemeliharaan berbasis digital serta prediktif juga menjadi fokus untuk menjaga stabilitas pasokan listrik nasional. Sofyano menjelaskan bahwa proses pemulihan sistem kelistrikan setelah gangguan tidak dapat dilakukan secara instan karena harus memastikan frekuensi, tegangan, dan pasokan listrik berada dalam kondisi aman untuk mencegah gangguan lanjutan.
Selain itu, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menambahkan bahwa selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada pembangunan pembangkit listrik, padahal jaringan transmisi memiliki peran vital sebagai jalur utama penyaluran listrik antarprovinsi. Namun, pembangunan transmisi berskala besar sering terkendala pembebasan lahan, proses perizinan lintas wilayah, dan koordinasi dengan masyarakat sekitar jalur transmisi.
Insiden blackout ini menunjukkan bahwa sistem kelistrikan nasional masih terlalu bergantung pada satu jalur transmisi utama tanpa jaringan cadangan yang memadai, sehingga ketika satu titik krusial bermasalah, efek domino langsung meluas ke berbagai provinsi di Sumatra. Kerentanan ini juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi, layanan publik, dan stabilitas sosial di wilayah terdampak.
Dengan momentum ini, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat berkolaborasi mempercepat pembangunan infrastruktur transmisi dan modernisasi sistem kelistrikan untuk memperkuat backbone listrik nasional. Hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi, terutama di tengah agenda nasional seperti hilirisasi industri strategis, ekosistem kendaraan listrik, dan transformasi pusat data berbasis kecerdasan buatan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan