Media KampungPenggerebekan markas judi online di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, mengungkap operasi jaringan internasional yang melibatkan ratusan warga negara asing. Bareskrim Polri melakukan penindakan di sebuah gedung perkantoran Hayam Wuruk Tower pada Sabtu, 9 Mei 2026, dan mengamankan 321 orang yang diduga terlibat dalam praktik ilegal tersebut.

Dari hasil operasi tersebut, mayoritas yang diamankan merupakan WNA, yakni 228 orang asal Vietnam, 57 dari China, 13 dari Myanmar, 11 dari Laos, lima dari Thailand, serta tiga orang masing-masing dari Malaysia dan Kamboja. Polisi menyatakan para pekerja itu telah menjalankan operasional judi online dengan target pasar luar negeri selama sekitar dua bulan sebelum penggerebekan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa kawasan apartemen dan perkantoran di Hayam Wuruk masih dijaga ketat oleh satu pleton Brimob Polda Metro Jaya demi menjaga keamanan pasca-penggerebekan. “Benar, saat ini masih terdapat personel Brimob Polda Metro Jaya yang melaksanakan penjagaan di kawasan Apartemen Hayam Wuruk,” ujar Budi Hermanto kepada mediakampung.com, Senin, 11 Mei 2026. Ia menambahkan, kehadiran aparat bertujuan memastikan situasi tetap kondusif dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan.

Meski penjagaan tidak lagi seketat awal pascapenindakan, aktivitas di sekitar gedung perlahan kembali normal. Polisi yang bertugas tampak duduk di sekitar pintu masuk, sementara satpam juga masih berjaga. Pegawai berseragam maupun berpakaian kasual terlihat keluar masuk gedung seperti biasa, namun suasana tetap diawasi aparat keamanan.

Warga sekitar mengaku sempat curiga dengan aktivitas di dalam gedung tersebut. Seorang warga yang ditemui di lokasi, Ananda, mengatakan sering melihat banyak orang asing keluar masuk selama beberapa bulan terakhir. “Biasanya suka banyak orang asing kayak Vietnam gitu di sini. Aku dari awal udah curiga,” ujarnya. Namun, warga baru mengetahui adanya praktik judi online setelah polisi melakukan penjagaan intensif di lokasi.

Hal serupa disampaikan oleh Sulaiman, petugas keamanan di gedung sekitar. Ia menyebut pekerja di markas itu didominasi warga asing dengan bahasa yang tidak dikenali. Selain itu, gaya berpakaian mereka pun berbeda dari pekerja kantoran pada umumnya, banyak yang mengenakan celana pendek dan tampak santai.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Wira Satya Triputra, memastikan bahwa ratusan WNA yang telah ditetapkan sebagai tersangka akan menjalani proses hukum di Indonesia. “Terhadap mereka nanti yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka akan tetap kami proses secara pidana dan akan kami limpahkan ke kejaksaan sampai dengan sidang pengadilan,” tegas Wira Satya Triputra. Ia menambahkan, penyidik juga tengah menelusuri aliran dana dan mencari sosok utama di balik sindikat ini dengan bantuan PPATK dan instansi terkait lainnya.

Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan mengapa sindikat ini menargetkan korban dari luar negeri. Menurutnya, pelaku biasanya menggunakan bahasa yang sama dengan target, sehingga keberadaan banyak WNA di lokasi menjadi indikasi kuat korban yang disasar adalah warga asing, khususnya dari Vietnam dan China. Pola ini juga terjadi pada rekrutmen pekerja Indonesia yang dipekerjakan di luar negeri untuk operasi serupa.

Saat ini, polisi masih mendalami siapa saja yang menjadi sponsor, penyewa gedung, serta penyokong dana utama operasi ini. Brimob Polda Metro Jaya tetap bersiaga di kawasan Hayam Wuruk untuk mengantisipasi gangguan dan memastikan keamanan selama proses hukum berjalan. Proses pemeriksaan terhadap ratusan tersangka WNA masih berlangsung, dan Polri berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk membongkar jaringan sindikat judi online transnasional ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.