Media Kampung, Surabaya — Rendahnya edukasi mengenai kanker payudara di Indonesia menyebabkan banyak pasien baru memeriksakan diri saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Koordinator Wilayah Lovepink Surabaya, Asih Suprapti, menyebut minimnya pemahaman masyarakat menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan.

Untuk memperluas jangkauan edukasi, Lovepink mulai menggandeng generasi muda. “Tahun kemarin kami memutuskan menggandeng adik-adik Generasi Z agar membantu menyuarakan edukasi tentang kanker payudara,” ujar Asih.

Menurutnya, keterlibatan Gen Z diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengenali gejala dan melakukan deteksi dini. Dengan edukasi yang lebih baik, angka pasien yang datang dalam kondisi stadium lanjut dapat ditekan. “Kalau edukasi sudah diterima masyarakat dengan baik, tentunya angka pasien kanker payudara stadium lanjut bisa diturunkan,” katanya.

Namun, Asih mengakui kenyataan di lapangan masih memprihatinkan. Banyak pasien baru datang berobat setelah kanker berkembang ke stadium lanjut karena kurang memahami penyakit tersebut. “Faktanya masih sangat banyak pasien yang datang berobat pada stadium lanjut. Artinya masyarakat masih kurang teredukasi mengenai kanker payudara,” ucapnya.

Mahasiswi bernama Divia menilai edukasi deteksi dini harus dimulai sejak usia remaja. Menurutnya, masih banyak orang menganggap kanker payudara hanya menyerang perempuan berusia lanjut. “Deteksi dini sangat penting. Edukasi sebaiknya dimulai dari sekolah-sekolah, bahkan sejak SMP,” ujar Divia. Ia berharap semakin banyak sekolah yang memasukkan edukasi kesehatan, khususnya mengenai kanker payudara, dalam kegiatan penyuluhan. Langkah tersebut dinilai dapat membangun kesadaran sejak dini sehingga masyarakat lebih waspada dan berani melakukan pemeriksaan apabila menemukan gejala mencurigakan.