Media Kampung – Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak pada harga obat di apotek. Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Surabaya, Rizal Umar, mengungkapkan bahwa kenaikan harga obat mencapai 3 persen, terutama untuk obat bebas dan obat bebas terbatas.
Menurut Rizal, obat keras yang memerlukan resep dokter belum mengalami kenaikan signifikan. Hal ini karena produsen obat masih memiliki stok bahan baku yang dibeli sebelum rupiah melemah. Namun, jika pelemahan berlanjut, harga semua jenis obat berpotensi naik.
Rizal menjelaskan bahwa lebih dari 80 persen bahan baku obat masih diimpor, sehingga fluktuasi kurs sangat berpengaruh. Kenaikan harga ini langsung dirasakan apotek karena mengurangi volume penjualan dan pendapatan, yang pada akhirnya mengganggu operasional.
Masyarakat pun mulai mengurangi pembelian obat, terutama untuk penyakit degeneratif seperti jantung, darah tinggi, dan diabetes. Jika biasanya mereka membeli untuk stok sebulan, kini hanya membeli seperlunya karena daya beli menurun.
Menghadapi situasi ini, apotek melakukan efisiensi, salah satunya dengan membatasi pembelian obat dari distributor dan tidak lagi menyimpan stok dalam jumlah besar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan