Media Kampung – Hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa 36 persen lansia terindikasi mengalami gangguan kognitif, termasuk demensia. Data ini diungkapkan oleh dr. Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, yang melibatkan sekitar 7 juta lansia dalam program cek kesehatan gratis.

Imran menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, sekitar 2 juta lansia menunjukkan gejala yang mengarah pada demensia. Demensia, menurut definisi, adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan berpikir, daya ingat, dan fungsi kognitif lainnya. Jenis demensia yang paling umum adalah Alzheimer dan demensia vaskular.

Saat ini, populasi lansia di Indonesia mencapai 37 juta dan diperkirakan akan terus meningkat. Pada tahun 2045, diprediksi jumlah lansia akan menjadi 20 persen dari total populasi. Dr. Imran menyoroti bahwa kasus demensia kini mulai muncul pada usia yang lebih muda, bahkan di antara mereka yang berusia 50 hingga 60 tahun.

Berdasarkan informasi dari Alo Dokter, gejala demensia dapat mulai dirasakan sejak usia 40 tahun, dengan tanda awal seperti mudah lupa. Dr. Imran juga menekankan pentingnya pencegahan demensia melalui aktivitas fisik. Berjalan kaki selama 20 menit setiap hari dapat mengurangi risiko terjadinya demensia hingga 40 persen.

Selain itu, pola makan yang sehat, seperti konsumsi sayuran hijau dan istirahat yang cukup, juga berperan dalam menjaga kesehatan otak. Aktivitas fisik tidak hanya membantu memelihara kesehatan tubuh, tetapi juga mencegah pengecilan otak yang biasanya terjadi seiring bertambahnya usia.

Dr. Riwanti Yuliami, seorang dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak, menambahkan bahwa demensia dapat mengganggu interaksi sosial dan kinerja seseorang. Penyebab demensia bisa bervariasi, ada yang disebabkan oleh faktor usia, seperti Alzheimer, dan ada yang dapat dicegah, seperti demensia Parkinson yang berhubungan dengan hipertensi, diabetes, dan gaya hidup tidak sehat.

Penting untuk memahami bahwa demensia bukanlah hal sepele. Masyarakat sering kali menganggapnya sebagai pikun, padahal ini adalah kondisi medis yang memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat. Dr. Riwanti menekankan perlunya meningkatkan kesadaran tentang demensia agar orang-orang tidak menganggap remeh gejala yang muncul.

Saat ini, belum ada cara yang pasti untuk mencegah demensia, namun langkah-langkah pencegahan dapat dilakukan. Beberapa kebiasaan sehat yang disarankan antara lain tidur yang cukup, tidak merokok, berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan sehat yang kaya antioksidan, dan menjaga hubungan sosial yang baik.

Menjaga kesehatan jantung dan memeriksa tekanan darah, kadar gula, serta kolesterol secara rutin juga sangat penting. Dengan langkah-langkah proaktif ini, diharapkan risiko demensia dapat diminimalisir dan kualitas hidup lansia dapat terjaga.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.