Media Kampung – Pertanyaan apakah chip TSMC benar-benar mampu melindungi Taiwan dari China semakin relevan di tengah rivalitas teknologi Amerika Serikat dan China yang terus meningkat. Sebagai produsen chip tercanggih dunia, Taiwan melalui TSMC menjadi pusat perhatian geopolitik global.

Dominasi TSMC dalam industri semikonduktor melahirkan konsep Silicon Shield, yaitu gagasan bahwa ketergantungan dunia terhadap chip Taiwan dapat menjadi tameng geopolitik yang melindungi negara tersebut dari ancaman eksternal, terutama China. Logikanya sederhana: jika Taiwan merupakan pusat produksi chip paling penting di dunia, maka negara-negara besar memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitasnya.

Berdasarkan laporan TrendForce (2025), TSMC menguasai sekitar 70 persen pasar foundry global dan mempertahankan posisinya sebagai perusahaan foundry terbesar di dunia. Dominasi ini menunjukkan bahwa Taiwan masih menjadi pusat manufaktur semikonduktor paling penting dalam rantai pasok teknologi global. Jika produksi chip di Taiwan terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri teknologi, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global secara keseluruhan.

Dari perspektif Hubungan Internasional, kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori Weaponized Interdependence yang dikembangkan oleh Henry Farrell dan Abraham Newman (2019). Menurut keduanya, negara yang menempati posisi sentral dalam jaringan ekonomi dan teknologi global dapat memperoleh pengaruh politik karena negara lain bergantung pada jaringan tersebut.

Namun, efektivitas Silicon Shield saat ini mulai menghadapi tantangan serius. Salah satu penyebabnya adalah perubahan strategi negara-negara besar yang berusaha mengurangi ketergantungan terhadap Taiwan. Pada tahun 2022, Amerika Serikat mengesahkan CHIPS and Science Act yang mengalokasikan sekitar US$52,7 miliar untuk memperkuat industri semikonduktor domestik. Kebijakan ini menunjukkan upaya Washington untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok chip yang terkonsentrasi di Asia Timur, khususnya Taiwan.

Pada saat yang sama, Uni Eropa meluncurkan European Chips Act, sementara Jepang memberikan berbagai insentif untuk menarik investasi semikonduktor. Bahkan TSMC sendiri mulai memperluas kapasitas produksinya ke luar Taiwan melalui pembangunan fasilitas di Arizona (Amerika Serikat), Kumamoto (Jepang), dan Dresden (Jerman). Nilai investasi TSMC di Arizona saja diperkirakan mencapai US$165 miliar.

Perkembangan ini menciptakan paradoks yang menarik. Di satu sisi, ekspansi global TSMC membantu memperkuat rantai pasok semikonduktor dunia. Namun di sisi lain, semakin banyak kapasitas produksi dipindahkan ke luar Taiwan, semakin berkurang pula tingkat ketergantungan dunia terhadap Taiwan itu sendiri. Inilah kelemahan mendasar Silicon Shield yang jarang dibahas: strategi tersebut hanya efektif selama dunia masih sangat bergantung pada Taiwan.

Selain menghadapi tantangan ekonomi, Silicon Shield juga memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan cara pandang China terhadap Taiwan. Banyak analisis berasumsi bahwa Beijing akan menghindari konflik karena biaya ekonomi yang sangat besar. Namun asumsi tersebut belum tentu sepenuhnya tepat. Bagi China, Taiwan bukan hanya persoalan perdagangan atau teknologi, tetapi juga menyangkut isu kedaulatan, identitas nasional, dan legitimasi politik.

Pemerintah China secara konsisten menyatakan bahwa reunifikasi Taiwan merupakan bagian dari kepentingan nasional inti. Dalam konteks seperti ini, kalkulasi politik sering kali lebih dominan dibandingkan pertimbangan ekonomi. Sejarah hubungan internasional menunjukkan bahwa negara tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan keuntungan ekonomi semata.

Kesalahan terbesar dalam banyak analisis adalah menganggap bahwa dominasi semikonduktor secara otomatis menjamin keamanan Taiwan. Memang benar bahwa TSMC memberikan nilai strategis yang luar biasa bagi Taiwan dan menjadikannya aktor yang sangat penting dalam ekonomi global. Namun, geopolitik tidak pernah hanya ditentukan oleh faktor ekonomi.

Upaya Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa untuk membangun industri semikonduktor domestik menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap Taiwan perlahan mulai dikurangi. Di sisi lain, China tetap memandang Taiwan sebagai isu politik dan kedaulatan yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan teknologi.

Silicon Shield lebih tepat dipahami sebagai instrumen deterrence yang dapat meningkatkan biaya konflik, bukan sebagai jaminan keamanan mutlak. Chip memang memberikan Taiwan posisi tawar yang sangat kuat, tetapi tidak cukup untuk sepenuhnya menghilangkan risiko geopolitik yang dihadapinya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.