Media Kampung – Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan buatan (AI) tidak boleh dimonopoli oleh satu negara pun. Pernyataan itu ia sampaikan saat membuka World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, China, pada 21 Juli 2026.
Dalam pidatonya, Xi mengibaratkan pengembangan AI sebagai sebuah simfoni, bukan pertunjukan solo. “Pengembangan AI tidak boleh menjadi pertunjukan solo oleh satu negara tunggal, melainkan sebuah simfoni kerja sama internasional,” ujarnya, dikutip dari AFP. Ia juga mengingatkan agar konsep keamanan nasional tidak disalahgunakan untuk menghambat kemajuan teknologi negara lain.
Pernyataan Xi tersebut merupakan sindiran terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Uni Eropa yang membatasi ekspor teknologi AI ke China dengan alasan keamanan nasional. China selama ini menjadi salah satu negara yang paling terkena dampak pembatasan tersebut, terutama dalam akses ke chip canggih dan perangkat lunak AI.
China Pimpin Tata Kelola AI Global
Di tengah pembatasan dari AS dan Eropa, China justru gencar mendorong kerja sama internasional di bidang AI. Salah satu langkah konkret adalah pendirian Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Global (WAICO) yang bermarkas di Shanghai. Organisasi ini telah disepakati oleh 29 negara, termasuk Indonesia, Rusia, dan Pakistan.
WAICO bertujuan memastikan pengembangan AI berjalan secara sehat, aman, dan teratur. Langkah ini dipandang sebagai upaya China untuk memimpin perumusan regulasi AI di tingkat global, sekaligus menandingi dominasi AS dalam ekosistem AI.
Pameran Teknologi AI China
WAIC 2026 menampilkan lebih dari 3.000 produk inovatif dari 1.000 perusahaan teknologi. Beberapa produk unggulan yang menarik perhatian antara lain model bahasa besar Kimi K3 buatan Moonshot AI, model M3 dari MiniMax, dan infrastruktur komputasi Atlas 950 milik Huawei.
Menariknya, banyak perusahaan global mulai beralih ke model AI sumber terbuka (open-source) dari China, seperti Qwen milik Alibaba. Model-model ini dinilai lebih murah dan fleksibel dibandingkan sistem tertutup milik OpenAI atau Anthropic. Hal ini menunjukkan bahwa China tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi mulai menjadi pemain kunci dalam inovasi AI global.
Selain raksasa teknologi seperti Baidu, Tencent, dan ByteDance, startup-startup baru seperti DeepSeek dan Zhipu AI juga terus mempercepat inovasi mereka. Langkah ini memperkecil jarak persaingan teknologi antara kubu AS dan China di panggung global.
Peringatan Pakar: Regulasi AI Ketat Diperlukan
Di tengah euforia pengembangan AI, Founder konsultan Praxis Advisory di Shanghai, Shengyun Lu, mengingatkan perlunya pengawasan ketat. “Kita harus meregulasi AI seperti kita meregulasi tenaga nuklir,” kata Lu. Pernyataan ini menekankan bahwa AI memiliki potensi risiko besar jika tidak dikelola dengan baik, sehingga tata kelola yang kuat menjadi krusial.















Tinggalkan Balasan