Media Kampung – Kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja semakin mengemuka. Dalam ensiklik pertamanya berjudul ‘Magnifica Humanitas’, Paus Leo XIV menyerukan ‘pelucutan AI’ dari segala kepentingan yang mengancam kedaulatan, demokrasi, dan keadilan. Tak lama setelah itu, CEO Anthropic (perusahaan di balik Claude AI), Dario Amodei, dalam sebuah esai menyatakan bahwa jika AI terus dibiarkan berkembang tanpa regulasi yang ketat, maka separuh lebih lapangan kerja akan digantikan oleh AI.

Kekhawatiran Paus Leo XIV dan Dario Amodei

Paus Leo XIV menekankan bahwa AI perlu dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi alat dominasi, pengucilan, dan kematian. Sementara itu, Dario Amodei memperingatkan guncangan besar di dunia kerja akibat AI yang berkembang sangat cepat. Menurutnya, AI tidak hanya menggantikan pekerjaan rutin, tetapi juga pekerjaan yang membutuhkan kreativitas tinggi dan intervensi emosi kompleks, seperti analis data, programmer, customer service, hingga konseling kejiwaan.

Perbedaan AI dengan Revolusi Teknologi Sebelumnya

Sepanjang sejarah, revolusi teknologi selalu berdampak pada tatanan sosial. Misalnya, revolusi agraria 10.000 tahun lalu mengubah pola berburu dan meramu menjadi bertani. Namun, AI berbeda karena perkembangannya yang sangat cepat dan kemampuannya untuk tidak hanya menjadi alat hitung, tetapi juga pesaing yang hampir mustahil dikalahkan manusia dalam kontestasi lapangan kerja. Amodei menyebut guncangan ini sangat besar dan masif, serta sulit diprediksi dampaknya.

Seruan untuk Berhenti Sejenak

AI diibaratkan pedang bermata dua: di satu sisi memberi kemudahan, kecepatan, dan efisiensi, di sisi lain menghilangkan pekerjaan yang telah dipelajari manusia bertahun-tahun. Para pemangku kebijakan, korporasi, dan industri didesak untuk bersikap rendah hati dan tidak egois. Pemerintah tidak boleh mengizinkan intervensi AI tanpa pembatasan, pengawasan, dan pemikiran tentang nasib pekerja yang kehilangan pekerjaan. Perusahaan AI juga harus mempertimbangkan dampak negatif inovasi mereka.

Momentum ini menuntut refleksi bersama: jika AI memang diproyeksikan sebagai pembantu umat manusia, mengapa banyak orang kehilangan pekerjaan karenanya? Semoga kekhawatiran Paus Leo XIV dan Dario Amodei tidak menjadi kenyataan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.