Media Kampung – Sebuah perusahaan yang sebelumnya mengklaim mampu melakukan pemindaian dan penghapusan jutaan buku untuk kebutuhan pengumpulan data pelatihan kecerdasan buatan (AI) kini telah menghapus bagian website yang mempromosikan layanan tersebut. Ternyata, layanan yang dijanjikan tersebut tidak pernah benar-benar direalisasikan.

Latar Belakang dan Klaim Awal Perusahaan

Perusahaan pihak ketiga yang bergerak di bidang database buku, ISBNdb, sebelumnya mempromosikan layanan yang disebut sebagai “partner streamlined untuk pengadaan buku cetak dalam jumlah besar, sesuai kebutuhan pelatihan model bahasa besar (LLM) yang dipakai AI.” Layanan ini diduga melibatkan pemindaian dan penghancuran fisik buku sebagai bagian dari proses pengumpulan data pelatihan AI.

Baca juga:

Kontroversi dan Tanggapan Publik

Klaim penghancuran buku menimbulkan reaksi negatif karena citranya yang buruk, terutama di mata publik yang menganggap penghancuran buku sebagai tindakan yang tidak etis dan kontroversial. Upaya perusahaan AI untuk menyembunyikan aktivitas ini melalui pihak ketiga justru memperburuk persepsi.

Dalam sebuah blog post berjudul “Reframing the Destruction Narrative,” perusahaan tersebut berusaha membingkai ulang narasi tersebut dengan menyatakan bahwa buku tidak benar-benar dihancurkan, melainkan nilai buku tersebut bermigrasi — kertas kembali ke siklus material sementara pengetahuan masuk ke siklus intelektual. Namun, klaim ini dianggap tidak sepadan oleh banyak pihak yang menilai bahwa mendapatkan pengetahuan dengan cara tersebut tidak setara dengan membaca langsung buku tersebut.

Baca juga:

Pembaruan Terbaru dari ISBNdb

Setelah sorotan media dan kritik yang meluas, ISBNdb menghapus halaman yang mempromosikan layanan tersebut dari situsnya. Perusahaan kemudian menyatakan kepada media bahwa halaman tersebut hanyalah uji pasar dan layanan tersebut tidak pernah diwujudkan.

Sementara itu, beberapa pedagang buku bekas melaporkan peningkatan pesanan dari pembeli pihak ketiga, yang diduga membeli banyak buku tua dan langka, meskipun layanan pemindaian dan penghancuran buku tidak pernah dijalankan.

Baca juga:

Konteks dan Implikasi

Kasus ini mencerminkan kekhawatiran dan tantangan etis dalam pengumpulan data pelatihan untuk teknologi AI. Penggunaan data buku fisik untuk melatih model AI kerap menimbulkan pertanyaan penting terkait hak cipta, etika penghancuran karya fisik, dan nilai pengetahuan asli dibandingkan hasil digitalisasi yang diolah oleh AI.

Perkembangan ini juga menunjukkan pentingnya transparansi dan tanggung jawab dalam praktik bisnis yang terkait dengan teknologi baru, terutama yang berpotensi menimbulkan kontroversi sosial.