Media Kampung – 16 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada aliansi NATO pada hari Senin, 16 Maret 2026, bahwa masa depan aliansi tersebut akan “sangat buruk” jika negara‑negara anggota tidak memberikan dukungan konkret untuk membuka Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran. Peringatan itu disampaikan dalam wawancara telepon selama delapan menit dengan media Inggris Financial Times (FT) dan kemudian dikonfirmasi oleh kantor berita AFP.

Latar Belakang Penutupan Selat Hormuz

Iran menutup Selat Hormuz setelah serangan gabungan antara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, yang menargetkan instalasi militer di Teheran dan kota‑kota strategis lainnya. Penutupan jalur laut ini, yang menjadi rute utama pengiriman minyak dunia, memicu lonjakan harga minyak mentah hingga lebih dari 100 dolar per barrel, meningkat sekitar 45 % dalam dua minggu terakhir. Harga yang tinggi menimbulkan kepanikan pasar dan menambah tekanan pada ekonomi global.

Permintaan Trump kepada Sekutu

Trump menekankan bahwa Amerika Serikat, yang telah mengirim bantuan militer ke Ukraina dalam konflik melawan Rusia, kini mengharapkan balasan berupa dukungan Eropa untuk operasi pembukaan Selat Hormuz. Ia menuntut pengiriman kapal penyapu ranjau serta pasukan yang dapat “menyingkirkan beberapa aktor jahat” di sepanjang pantai Iran. Menurutnya, Eropa memiliki lebih banyak kapal penyapu ranjau dibandingkan AS, sehingga mereka seharusnya memimpin upaya tersebut.

Selain menekan Uni Eropa, Trump juga mengancam akan menunda pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing jika China tidak berkontribusi dalam membuka selat tersebut. Ia menegaskan bahwa China dan banyak negara Eropa lebih bergantung pada minyak Teluk daripada Amerika Serikat, sehingga “sudah sepatutnya mereka yang mendapat manfaat dari selat itu membantu memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sana”.

Reaksi Inggris dan Negara Lain

Dalam wawancara terpisah, Trump menyebut Inggris sebagai “sekutu nomor satu” dan “sekutu paling lama” Washington, namun menilai bahwa Inggris belum menunjukkan komitmen yang memadai. Ia menyatakan Inggris baru menawarkan pengiriman kapal setelah Amerika Serikat “pada dasarnya telah menyingkirkan kapasitas bahaya” di wilayah tersebut, menambahkan bahwa “kami membutuhkan kapal‑kapal itu sebelum kami menang, bukan setelah kami menang”.

Trump juga mengungkapkan bahwa AS sedang berkoordinasi dengan sekitar tujuh negara untuk mendapatkan dukungan dalam membuka kembali Selat Hormuz, meski tidak menyebutkan secara spesifik negara‑negara mana saja.

Implikasi Strategis bagi NATO

Trump menegaskan bahwa NATO adalah “jalan satu arah” di mana Amerika Serikat selalu mendukung sekutunya, tetapi sekutu‑sekutu tidak selalu membalas ketika Amerika membutuhkan bantuan. Ia memperingatkan bahwa jika respons sekutu “negatif atau tidak ada”, aliansi tersebut akan menghadapi krisis eksistensial. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Rusia, serta meningkatnya persaingan energi antara Barat dan Timur.

Pengaruh Terhadap Pasar Energi

Kenaikan harga minyak akibat penutupan selat memicu inflasi di sejumlah negara importir energi. Analis pasar memperkirakan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup lebih dari dua minggu, harga minyak dapat melampaui 130 dolar per barrel, memperburuk kondisi ekonomi global yang sudah tertekan oleh konflik Ukraina dan ketidakstabilan di Timur Tengah.

Upaya diplomatik dan militer untuk membuka kembali selat masih dalam tahap awal, dengan pihak AS menyiapkan operasi militer terbatas dan menunggu kontribusi logistik dari sekutu NATO. Sementara itu, Iran menegaskan bahwa penutupan selat bersifat “di bawah kendali” dan bukan blokade militer, meskipun terus mengancam balasan terhadap setiap upaya intervensi.

Dengan tekanan tinggi dari Washington, dinamika hubungan NATO‑Eropa‑China diperkirakan akan semakin kompleks dalam minggu‑minggu mendatang, sementara pasar energi tetap berada di ambang volatilitas ekstrem.

Jika sekutu‑sekutu NATO tidak memberikan dukungan yang diminta, ancaman Trump bahwa masa depan aliansi akan “sangat buruk” dapat beralih menjadi realitas politik yang memaksa revisi kebijakan pertahanan kolektif dan strategi energi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.