Media Kampung – Seorang mahasiswa F-1 yang tengah menyelesaikan studi di Amerika Serikat dihadapkan pada dilema besar: menerima tawaran pekerjaan di Bengaluru, India, dengan gaji Rp28 LPA (sekitar Rp280 juta per tahun) atau tetap di AS dengan gaji US$60.000 per tahun yang sedang diproses visa H-1B-nya. Kisah ini diunggah di Reddit dan memicu diskusi hangat tentang tekanan finansial dan ketidakpastian imigrasi yang dihadapi pekerja asal India di AS.
Mahasiswa tersebut mengaku pindah ke AS untuk meraih gelar master dan baru mendapatkan pekerjaan setelah berjuang selama satu tahun. Ia beruntung karena terpilih dalam lotere H-1B tahun ini, namun gaji yang diterimanya dinilai relatif rendah untuk standar AS. Ia juga mengungkapkan keinginan pulang ke India untuk merawat orang tua yang semakin tua, tetapi khawatir terjebak dalam siklus H-1B.
Di sisi lain, banyak netizen menyarankan untuk menerima tawaran di India. “Gaji Rp28 LPA di India sangat besar, sedangkan US$60.000 di AS tergolong rendah, apalagi jika tinggal di Philadelphia yang biaya hidupnya masih tinggi,” komentar salah satu pengguna. Mereka juga mengingatkan bahwa PHK massal di sektor teknologi AS bisa menjadi risiko besar bagi pemegang visa H-1B.
Keputusan ini tidak mudah. Di satu sisi, bekerja di AS memberikan pengalaman internasional dan akses ke teknologi terkini. Di sisi lain, tekanan visa, biaya hidup tinggi, dan kerinduan keluarga menjadi pertimbangan kuat. Bagi banyak profesional India, pilihan antara karir di AS dan kenyamanan di India sering kali menjadi dilema yang rumit.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan