Media Kampung – Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran serangan udara masif Rusia pada Minggu, 24 Mei 2026. Serangan yang melibatkan gelombang rudal dan drone ini dilaporkan menewaskan sedikitnya empat warga sipil dan melukai lebih dari 50 orang lainnya. Salah satu senjata yang digunakan dalam gempuran ini adalah rudal hipersonik Oreshnik, yang disebut sebagai salah satu sistem senjata paling canggih milik Rusia.
Otoritas Ukraina melaporkan bahwa serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan tempat tinggal, perkantoran, dan fasilitas pendidikan. Suara ledakan keras terdengar di berbagai penjuru kota sejak dini hari, memaksa warga untuk mencari perlindungan, termasuk di stasiun kereta bawah tanah.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa serangan besar-besaran ini merupakan respons atas serangan Ukraina terhadap infrastruktur sipil di wilayah Rusia. Sebelumnya, Ukraina dilaporkan telah melancarkan serangan ke sebuah asrama mahasiswa di Kota Starobilsk, wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia, pada Jumat, 22 Mei 2026. Serangan di Starobilsk tersebut diklaim menewaskan 18 orang, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Ukraina yang menyatakan serangan ditujukan ke pangkalan militer.
Rudal hipersonik Oreshnik dikategorikan sebagai rudal jarak menengah yang mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir. Kecepatannya yang sangat tinggi membuat rudal ini sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara yang ada saat ini, termasuk yang dimiliki Ukraina. Penggunaan Oreshnik dalam konflik ini dilaporkan menjadi yang ketiga kalinya, menimbulkan kekhawatiran internasional.
Para pemimpin Uni Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, mengecam keras penggunaan rudal berkemampuan nuklir tersebut. Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menilai manuver Moskow sebagai taktik menakut-nakuti yang berbahaya dan diplomasi tepi jurang nuklir yang sembrono. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengutuk serangan tersebut dan melihatnya sebagai tanda perluasan konflik yang semakin agresif.
Serangan ini terjadi di tengah upaya negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina yang difasilitasi oleh Amerika Serikat. Tiga putaran negosiasi yang telah digelar sebelumnya di Abu Dhabi dan Jenewa dilaporkan belum membuahkan hasil perdamaian yang berarti. Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya sempat menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy guna membahas perdamaian, namun belum ada perkembangan lebih lanjut.
Angkatan Udara Ukraina mengklaim bahwa serangan tersebut melibatkan sekitar 600 drone dan 90 rudal, dengan sebagian besar berhasil dicegat. Namun, serangan yang terjadi kali ini dinilai sebagai salah satu gempuran terbesar yang pernah menyasar ibu kota Ukraina, menunjukkan eskalasi konflik yang terus berlanjut.
Kondisi di Kyiv saat ini masih dalam pemulihan pasca-serangan. Petugas penyelamat dilaporkan tengah memadamkan kebakaran dan menyisir puing-puing bangunan yang rusak parah. Serangan ini menambah daftar panjang korban jiwa dan kerusakan infrastruktur dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan