Media Kampung – Iran menegaskan bahwa sebagian besar rudal Iran belum dioptimalkan dalam konflik melawan Amerika Serikat, menandakan potensi militer yang masih tersimpan. Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu, 26 April 2026, menjelang intensifikasi operasi di Teluk.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Jenderal Reza Talaei‑Nik, menyatakan, “Sebagian besar kemampuan rudal kami masih belum digunakan”. Ia menambahkan bahwa pasukan Iran tetap berada pada posisi unggul selama konfrontasi.
Menurut talaei‑Nik, sebagian besar sistem rudal balistik dan hipersonik masih berada dalam status kesiapan strategis, tetapi belum diaktifkan dalam pertempuran terbuka. Ia menegaskan bahwa keputusan penggunaan senjata tersebut bersifat taktis dan terukur.
Selama fase awal konflik yang berlangsung selama empat puluh hari, Iran mengoperasikan sebagian kecil persediaan rudalnya untuk menanggapi serangan udara musuh. Namun, sebagian besar armada tetap dalam cadangan untuk potensi eskalasi lebih lanjut.
Jenderal Talaei‑Nik menegaskan bahwa pasukan Iran berhasil mempertahankan supremasi udara penuh atas wilayah yang dianggap pendudukan Zionis, yakni Israel. Keunggulan tersebut, kata dia, memperkuat posisi tawar Tehran dalam negosiasi militer.
Dalam konteks konfrontasi laut, Iran mengklaim kapal perang Amerika Serikat dan sekutunya mundur ratusan kilometer dari perairan lepas pantai Oman. Penarikan tersebut, menurut pihak militer Tehran, merupakan respons terhadap operasi penegakan kedaulatan Iran di wilayah tersebut.
Konflik tersebut menyebabkan gangguan signifikan pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama. Penghentian sebagian aliran minyak berdampak pada harga energi dunia.
Pergeseran pasokan minyak mentah menimbulkan volatilitas di pasar energi internasional, memicu kenaikan harga bahan bakar dan memengaruhi perekonomian global. Analis menilai bahwa ketidakpastian ini dapat berlanjut hingga resolusi diplomatik tercapai.
Serangan gabungan AS‑Israel yang dimulai pada akhir Februari menandai eskalasi pertama sejak ketegangan regional meningkat pada awal tahun. Operasi tersebut menargetkan infrastruktur militer Iran di wilayah strategis.
Sementara itu, Iran tetap membuka jalur diplomatik dengan mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan, untuk membahas kemungkinan perundingan dengan Washington. Pejabat Tehran menekankan bahwa diskusi hanya dapat berjalan bila syarat-syarat Iran dipenuhi.
Pihak Amerika Serikat mengirimkan utusan khusus, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan damai. Kedua delegasi diharapkan menyampaikan posisi Washington mengenai blokade laut dan keamanan regional.
Para pengamat militer menilai bahwa keberadaan cadangan rudal yang belum dipakai memberikan Iran fleksibilitas strategis dalam menanggapi perkembangan medan perang. Namun, penggunaan besar‑besar dapat meningkatkan risiko eskalasi lebih luas.
Jika Iran memutuskan mengaktifkan sebagian besar persediaan rudal, kemungkinan serangan balistik terhadap pangkalan AS di wilayah Teluk atau fasilitas militer di Israel akan meningkat. Keputusan tersebut akan sangat dipengaruhi pada dinamika diplomatik yang sedang berlangsung.
Negara‑negara tetangga, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, menyatakan keprihatinan atas potensi eskalasi yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi kawasan. Mereka menyerukan dialog multilateral untuk meredam ketegangan.
Hingga kini, Iran masih mempertahankan sebagian besar rudalnya dalam status siaga, sambil memantau respons internasional terhadap serangan AS‑Israel. Pemerintah Tehran menegaskan kesiapan untuk melanjutkan operasi militer bila diperlukan, namun tetap berharap solusi diplomatik dapat tercapai.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan