Media Kampung – Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke ibu kota Ukraina, Kyiv, dengan menggunakan rudal hipersonik Oreshnik dan ratusan drone pada akhir pekan lalu. Serangan ini menyebabkan sedikitnya empat warga sipil tewas dan puluhan lainnya terluka, serta merusak sejumlah bangunan di kawasan permukiman dan fasilitas publik.

Serangan tersebut terjadi pada Minggu pagi (24/5/2026) setelah Rusia mengumumkan pembalasan atas serangan Ukraina di wilayah Starobilsk, yang diklaim menewaskan 18 orang. Presiden Rusia Vladimir Putin menuding Ukraina bertanggung jawab atas insiden itu, meskipun pihak Ukraina membantah sasaran serangan mereka adalah asrama mahasiswa dan menyatakan bahwa operasi mereka menyasar pangkalan militer Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi penggunaan rudal hipersonik Oreshnik dalam serangan tersebut. Rudal ini memiliki kecepatan hingga Mach 10 dan kemampuan membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir, yang membuatnya sulit untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Serangan ini juga melibatkan sekitar 600 drone dan 90 rudal yang diluncurkan dari berbagai arah, meskipun pertahanan udara Ukraina berhasil mencegat sebagian besar serangan tersebut.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menggambarkan serangan tersebut sebagai pengalaman yang sangat mengerikan. Ia mencatat dua warga tewas dan 56 lainnya terluka di ibu kota, sementara dua korban lainnya dilaporkan meninggal di wilayah sekitar Kyiv. Selain korban jiwa, sejumlah bangunan tempat tinggal, sekolah, dan fasilitas pemerintah mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Serangan ini merupakan eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun antara Rusia dan Ukraina. Meskipun telah ada beberapa upaya negosiasi damai yang dimediasi Amerika Serikat di Abu Dhabi dan Jenewa, ketiga putaran perundingan gagal mencapai kesepakatan. Putin bahkan menyatakan kesiapannya untuk bertemu langsung dengan Zelenskyy di Moskow untuk membahas perdamaian, namun belum ada perkembangan lebih lanjut mengenai rencana tersebut.

Rudal hipersonik Oreshnik pertama kali digunakan Rusia pada November 2024 dan kembali dipakai dalam serangan di wilayah Lviv pada Januari 2026 sebelum menyerang Kyiv. Presiden Putin menegaskan kemampuan rudal ini menghancurkan bunker bawah tanah yang dalam, dengan daya rusak yang mendekati serangan nuklir. Serangan terbaru ini mendapat kecaman keras dari sejumlah pemimpin dunia, termasuk kepala urusan luar negeri Uni Eropa dan Presiden Prancis, yang menyebut penggunaan senjata tersebut sebagai taktik intimidasi yang berbahaya dan eskalasi yang mengkhawatirkan dalam konflik.

Presiden Zelenskyy menegaskan pentingnya memberikan hukuman kepada Rusia atas serangan ini dan memperingatkan warga Ukraina untuk tetap waspada dan mencari perlindungan. Situasi di Kyiv dan wilayah sekitarnya masih dalam kondisi siaga tinggi menyusul ancaman serangan lanjutan.

Serangan besar Rusia ke Kyiv dengan rudal hipersonik dan drone ini menandai babak baru dalam konflik yang terus memanas, menunjukkan bahwa perang masih jauh dari kata usai dan berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih luas di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.