Media Kampung – Iran menyatakan bahwa proposal terbaru dari Amerika Serikat berhasil mempersempit jarak perbedaan dalam proses diplomasi antara kedua negara. Langkah ini dinilai membuka peluang membangun kesepakatan damai yang lebih permanen di tengah ketegangan yang masih berlangsung.

Diplomasi berjalan melalui pertukaran pesan yang merujuk pada proposal 14 poin yang sebelumnya diajukan oleh Iran. Salah satu poin utama dalam proposal tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz oleh pihak Iran, yang selama ini menjadi titik sensitif dalam hubungan kedua negara.

Sebagai imbalan, Iran meminta agar Amerika Serikat mencabut blokade yang diterapkan pada pelabuhan-pelabuhan Iran terlebih dahulu. Pembahasan lebih lanjut mengenai program nuklir Iran akan dilakukan setelah langkah tersebut terealisasi, menunjukkan adanya pendekatan bertahap dalam negosiasi.

Selain isu nuklir dan Selat Hormuz, Iran juga menginginkan penghentian konflik di berbagai wilayah seperti Lebanon dan kawasan Timur Tengah lainnya. Negara ini juga menuntut pencairan aset yang dibekukan akibat sanksi internasional yang diberlakukan selama ini.

Dalam upaya mempercepat proses diplomasi, Pakistan mengambil peran sebagai mediator dengan mengirimkan Asim Munir ke Teheran untuk menjembatani komunikasi antara Iran dan AS. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga jalur dialog tetap terbuka.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa diplomasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir, pernyataan yang sempat meningkatkan optimisme di pasar global dan investor. Namun, ia juga memberikan peringatan bahwa jika negosiasi gagal, kemungkinan serangan baru terhadap Iran masih sangat mungkin terjadi.

Salah satu tantangan utama dalam negosiasi adalah tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium selama sepuluh tahun penuh, yang secara tegas ditolak oleh Teheran. Iran menegaskan tidak akan menyerah di bawah tekanan Washington dan bahkan mempertimbangkan kemungkinan memindahkan material uranium ke Rusia, menurut laporan Reuters.

Ketegangan yang terus berlangsung telah berdampak pada pasar energi global, dengan harga minyak dunia kembali naik akibat ketidakpastian kondisi geopolitik. Situasi saat ini menunjukkan bahwa meski ada kemajuan diplomasi, tantangan besar masih menanti kedua pihak untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.