Media Kampung – Dalam sidang umum ke-79 World Health Assembly (WHA) yang berlangsung di Jenewa, Swiss, sejumlah negara kembali menyuarakan dukungan mereka agar Taiwan dapat berpartisipasi sebagai pengamat. Lebih dari 20 perwakilan dari berbagai negara, termasuk sekutu diplomatik Taiwan serta negara-negara seperti Inggris, Jerman, Lithuania, dan Republik Ceko, menyatakan pentingnya keterlibatan Taiwan dalam forum kesehatan dunia tersebut.

George Kippels, Sekretaris Negara Parlemen di Kementerian Negara Jerman, menegaskan bahwa sebagai anggota WHO, Jerman berkewajiban mendukung dan memperkuat arahan WHO, termasuk mendukung Taiwan sebagai pengamat. Sementara itu, Menteri Kesehatan Lithuania, Marija Jakubauskiene, menyampaikan bahwa WHO seharusnya tidak mengabaikan wilayah manapun di dunia dan mengimbau agar Taiwan diundang untuk berpartisipasi secara bermakna dalam WHA.

Perwakilan dari Luksemburg dan Prancis juga menyatakan dukungan mereka agar Taiwan dapat mengikuti semua pertemuan teknis WHO sebagai pengamat. Menteri Kesehatan Republik Ceko, Adam Vojtech, mengungkapkan dukungan negaranya terhadap usulan pemberian status pengamat kepada Taiwan dengan alasan untuk memastikan tidak ada pihak yang tertinggal.

Selain itu, Estonia serta Inggris juga menegaskan dukungan mereka agar Taiwan memperoleh akses yang berarti dalam kegiatan teknis WHO dan sidang WHA. Duta Besar Inggris untuk PBB, Kumar Iyer, mengingatkan bahwa Taiwan pernah menjadi pengamat antara 2009 hingga 2016 dan mengajak agar akses tersebut dapat dipulihkan.

Negara-negara lain seperti Curacao, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Kanada turut menyuarakan pentingnya inklusivitas dalam kolaborasi kesehatan global, khususnya dalam menghadapi situasi darurat kesehatan masyarakat seperti pandemi. Mereka menilai partisipasi Taiwan dapat membawa manfaat dalam upaya bersama melawan ancaman kesehatan dunia.

Di sisi lain, sejumlah negara sekutu diplomatik Taiwan, termasuk Kepulauan Marshall, Guatemala, Haiti, Saint Lucia, Eswatini, Tuvalu, Saint Kitts dan Nevis, Palau, Paraguay, serta Saint Vincent dan Grenadines, juga memberikan dukungan tegas agar Taiwan dapat berpartisipasi secara bermakna dalam WHA dan kegiatan WHO lainnya.

Namun di tengah dukungan internasional tersebut, Beijing kembali menegaskan penolakannya terhadap keikutsertaan Taiwan di WHA dengan mengutip prinsip Satu China. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa sidang WHA untuk kesepuluh kalinya menolak proposal yang mengundang Taiwan sebagai pengamat, menegaskan dukungan internasional terhadap prinsip tersebut tetap kokoh.

Guo menambahkan bahwa usaha pemerintah Taiwan untuk mempromosikan kemerdekaan tidak akan berhasil dan menegaskan bahwa reunifikasi lengkap China dengan Taiwan akan tercapai. Pernyataan ini menandai ketegangan yang terus berlangsung di arena internasional terkait status Taiwan dalam organisasi global seperti WHO.

Situasi ini juga memengaruhi aksi pendukung Taiwan di Jenewa, di mana peserta aksi dukungan terhadap kehadiran Taiwan di WHA diminta oleh petugas untuk menutupi atau melepas kaos yang memuat kata “Taiwan” selama acara berlangsung. Hal ini memicu perasaan terpinggirkan di kalangan pendukung Taiwan yang hadir.

Meski begitu, dukungan dari berbagai negara dalam forum WHA kali ini menunjukkan adanya dorongan kuat agar Taiwan dapat berperan lebih aktif dalam diskusi kesehatan global, terutama mengingat pengalaman Taiwan dalam penanganan pandemi dan sistem kesehatan publiknya yang dianggap berprestasi. Perkembangan selanjutnya akan terus menjadi fokus perhatian komunitas internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.