Media Kampung – Kelompok aktivis punk anti-Kremlin Pussy Riot melakukan aksi protes di depan Paviliun Rusia selama Venice Biennale 2026, yang memaksa penutupan sementara paviliun tersebut. Aksi ini muncul di tengah kontroversi keikutsertaan Rusia dalam acara seni bergengsi yang berlangsung setiap dua tahun di Venesia, Italia.
Protes ini dipicu oleh kehadiran delegasi Rusia yang diizinkan ikut serta meski perang antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung. Anggota Pussy Riot, Nadya Tolokonnikova, menyatakan bahwa partisipasi Rusia dalam Biennale adalah bentuk kekerasan kultural yang memperkuat dominasi Rusia atas Barat. “Mereka minum vodka dan sampanye di paviliun mereka, tercemar darah anak-anak Ukraina,” ujarnya dengan tegas.
Dalam aksi tersebut, para aktivis menyalakan flare asap dan mengangkat tangan sambil meneriakkan slogan “Russia kills! Biennale exhibits!” sebagai bentuk penolakan atas kehadiran Rusia. Protes ini mendapat perhatian luas karena Venice Biennale dikenal sebagai salah satu institusi seni paling prestisius di dunia dengan sejarah lebih dari 130 tahun.
Sementara itu, pemerintah Inggris turut mengecam keikutsertaan Rusia dan menyatakan sikap tidak mendukung dengan menarik perwakilan menteri mereka dari acara tersebut. Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan bahwa mereka berdiri bersama rakyat Ukraina yang telah menanggung agresi ilegal Rusia selama lebih dari empat tahun.
Kontroversi semakin memuncak saat seluruh juri yang bertugas memilih pemenang penghargaan Golden Lion mengundurkan diri. Mereka menolak menilai karya dari negara-negara yang pemimpinnya sedang menghadapi surat perintah penangkapan, termasuk Rusia dan Israel. Keputusan ini diambil setelah juri diberitahu oleh tim hukum Biennale bahwa mereka bisa dipersalahkan secara hukum jika tetap menilai karya dari negara-negara tersebut.
Komisioner resmi Paviliun Rusia, Anastasia Karneeva, menyatakan bahwa Rusia memiliki hak untuk ikut serta karena “ini adalah rumah kami, kami datang ke tempat kami.” Pernyataan ini memperlihatkan ketegangan yang terus berlangsung antara Rusia dan komunitas internasional terkait konflik di Ukraina.
Venice Biennale sendiri merupakan ajang seni internasional yang telah berlangsung sejak 1895 dan diikuti oleh berbagai negara di seluruh dunia. Keikutsertaan Rusia tahun ini menjadi yang pertama sejak perang dengan Ukraina dimulai, sehingga menimbulkan protes keras dari berbagai pihak yang menentang kehadiran Rusia dalam acara seni tersebut.
Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi lebih lanjut dari penyelenggara Biennale terkait status Paviliun Rusia setelah protes tersebut. Namun aksi Pussy Riot ini menandai perlawanan budaya yang kuat di tengah konflik geopolitik yang sedang berlangsung.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan