Media Kampung – Iran memperingatkan bahwa pihaknya dapat memperkaya uranium hingga 90 persen jika Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan baru ke wilayahnya. Uranium dengan tingkat pengayaan 90 persen merupakan salah satu material komponen utama untuk memproduksi senjata nuklir.

Pernyataan ini disampaikan oleh Ebrahim Rezaei, juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional parlemen Iran. Rezaei mengatakan bahwa opsi tersebut sedang dipertimbangkan dan akan dibahas di parlemen.

Ketegangan antara Iran dan AS-Israel memuncak setelah serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu respons balasan dari Iran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa perang melawan Iran belum dapat dianggap selesai selama stok uranium masih dimiliki oleh Teheran. Netanyahu berencana mengurangi ketergantungan bantuan militer Amerika Serikat secara bertahap kepada Israel dalam sepuluh tahun ke depan.

Gencatan senjata yang sempat diberlakukan hanya bertahan sebagai solusi sementara di tengah tekanan militer. Bahkan perpanjangannya dilakukan tanpa kepastian batas waktu yang jelas dan tanpa jaminan keberlanjutan.

Kondisi tersebut membuat situasi tetap berada dalam fase rapuh yang mudah berubah menjadi eskalasi terbuka. Ketidakpastian ini memperbesar risiko konflik kembali meledak sewaktu-waktu.

Iran telah mengirimkan tanggapannya kepada Pakistan atas proposal AS untuk mengakhiri perang. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak usulan tersebut dan menyebutnya sebagai tawaran yang “sama sekali tidak dapat diterima”.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran global terkait stabilitas keamanan internasional. Iran memperingatkan bahwa jika AS dan Israel melancarkan serangan baru, maka mereka akan memperkaya uranium hingga 90 persen.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.