Media Kampung – Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk akibat pembatasan dan praktik pemaksaan oleh Israel, sehingga warga Gaza semakin membutuhkan layanan konseling psikologis.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa kebutuhan layanan psikososial meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

OCHA mencatat bahwa mitra mereka di Gaza mengoperasikan hotline bebas pulsa untuk layanan konseling jarak jauh, dengan total lebih dari 9.600 sesi konseling telah dilakukan antara Maret dan April.

Laporan tersebut juga menunjukkan lonjakan tajam pada kasus kesehatan mental, termasuk peningkatan 90 persen pada ideasi penghilangan nyawa diri sendiri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa lebih dari 43.000 orang di Gaza mengalami cedera yang berpotensi mengubah hidup, termasuk cedera tulang belakang, cedera otak traumatis, luka bakar parah, dan amputasi.

Sekitar 53.000 cedera lainnya membutuhkan rehabilitasi jangka panjang, dengan satu dari lima korban amputasi merupakan anak-anak.

WHO menyebut layanan rehabilitasi mulai membaik sejak September 2025, namun kapasitasnya masih jauh di bawah tingkat sebelum Oktober 2023.

Tidak ada fasilitas rehabilitasi yang berfungsi penuh, sementara lebih dari 400 pasien masih menunggu perawatan khusus.

Komunitas Palestina di Tepi Barat juga terkena dampak, dengan 45 komunitas yang telah mengungsi sepenuhnya akibat serangan pemukim dan pembatasan akses.

Lebih dari 60 persen pengungsian tahun ini terjadi di wilayah Lembah Yordan.

PBB menegaskan bahwa warga Palestina di Tepi Barat harus dilindungi sesuai hukum internasional, dan para pelaku pelanggaran harus dimintai pertanggungjawaban.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.