Media Kampung – Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini resmi berganti nama menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) setelah peneliti dan para ahli kesehatan sepakat bahwa nama lama tidak lagi mencerminkan kondisi sebenarnya. Perubahan nama ini diharapkan dapat meningkatkan diagnosis dan perawatan bagi jutaan wanita di seluruh dunia yang mengalami gangguan hormonal dan metabolik ini.

Perubahan nama tersebut diumumkan melalui publikasi di The Lancet pada 12 Mei 2026, setelah lebih dari satu dekade kolaborasi antara tenaga medis dan pasien. PCOS selama ini dianggap sebagai gangguan yang terkait dengan kista di ovarium, padahal sebenarnya kondisi ini lebih kompleks melibatkan berbagai sistem hormon dan metabolisme tubuh. Dr. Melanie Cree, seorang ahli endokrinologi pediatrik dari University of Colorado Anschutz, menjelaskan bahwa istilah ‘polycystic’ menimbulkan kesalahpahaman karena tidak semua pasien memiliki kista ovarium yang sebenarnya.

PMOS merupakan gangguan hormonal yang memengaruhi sekitar satu dari delapan wanita secara global. Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang berdampak pada berat badan, kesehatan metabolik, sistem reproduksi, serta kondisi psikologis dan kulit. Lebih lanjut, PMOS berhubungan dengan sindrom metabolik yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke, menurut penjelasan Dr. Sarah Hutto dari University of Minnesota Medical School.

Penyebab pasti PMOS belum diketahui secara jelas, namun faktor genetik dan obesitas diyakini memiliki peran penting. Gejala yang muncul beragam, mulai dari siklus menstruasi yang tidak teratur hingga produksi hormon androgen yang berlebihan, yang dapat menimbulkan jerawat, pertumbuhan rambut berlebih, atau kerontokan rambut. Tidak semua pasien menunjukkan keberadaan kista ovarium, karena yang terlihat sebenarnya adalah folikel yang berkembang tidak sempurna, bukan kista abnormal.

Dalam mendiagnosis PMOS pada remaja, dokter harus memastikan adanya kombinasi siklus menstruasi yang tidak teratur dan tanda-tanda tingginya kadar androgen, baik melalui pemeriksaan darah atau gejala fisik seperti jerawat parah dan pertumbuhan rambut di dada. Menurut Cleveland Clinic, PMOS merupakan penyebab utama infertilitas wanita karena gangguan ovulasi yang dialami pasien. Meski demikian, sebagian besar wanita dengan PMOS masih mampu menjalani kehamilan dengan sukses, meskipun risiko komplikasi seperti diabetes gestasional dan kelahiran prematur meningkat.

Perawatan utama yang dianjurkan adalah perubahan gaya hidup, termasuk mengurangi konsumsi makanan olahan, rutin berolahraga, serta menjaga kualitas tidur. Dr. Cree menambahkan bahwa banyak wanita dengan PMOS mengalami resistensi insulin yang memicu produksi testosteron berlebih, sehingga pengelolaan insulin menjadi kunci dalam mengatasi gejala penyakit ini.

Perubahan nama dari PCOS ke PMOS tidak hanya membantu menghilangkan kesalahpahaman tentang penyakit ini tetapi juga membuka peluang bagi penelitian lebih mendalam dan pendanaan yang lebih luas. Menurut Dr. Helena Teede dari Monash University, dengan pemahaman yang lebih akurat, pasien dan tenaga medis dapat menjalani proses diagnosis dan penanganan dengan lebih baik serta mendapat dukungan yang tepat.

Rachel Morman, ketua organisasi Verity UK yang juga penderita PMOS, menyatakan bahwa selama ini banyak wanita dan profesional medis yang keliru mengira bahwa penyakit ini hanya soal kista ovarium. Kesalahan persepsi ini kerap membuat pasien sulit mendapatkan diagnosis yang tepat dan perawatan yang efektif. Dengan nama baru, diharapkan stigma dan kebingungan yang selama ini menghambat penanganan akan berkurang.

Perubahan nama ini merupakan langkah penting dalam upaya meningkatkan kesadaran global terhadap gangguan hormonal yang memengaruhi kesehatan perempuan secara menyeluruh. Dengan pengenalan PMOS, diharapkan layanan kesehatan dapat lebih responsif dan fokus pada aspek metabolik dan endokrin yang menjadi inti masalah, bukan hanya aspek ginekologi semata.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.