Media Kampung – Kapal pesiar mewah MV Hondius menjadi pusat perhatian dunia setelah wabah hantavirus terdeteksi pada penumpang dan awak kapal dari tujuh negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi tujuh kasus positif dan satu kasus dugaan kuat (probable case) hingga Selasa, 12 Mei 2026.
Wabah ini telah menyebabkan tiga kematian, di mana dua orang dipastikan terinfeksi hantavirus dan satu lagi merupakan kasus probable. WHO terus melakukan penyelidikan terhadap kasus suspek dan kontak erat pasien yang terjangkit virus ini.
Proses evakuasi pasien dimulai pada Rabu, 6 Mei 2026, dengan para pasien mengenakan pakaian pelindung ketat saat dibawa ke ambulans. Dua warga Belanda yang menjadi korban meninggal dunia akibat virus ini, sementara satu warga Belanda lainnya positif terinfeksi.
Pasangan suami istri asal Belanda yang sebelumnya berwisata di Amerika Selatan naik kapal di Ushuaia, Argentina, pada 1 April. Sang suami yang berusia 70 tahun menunjukkan gejala pada 6 April dan meninggal pada 11 April. Jenazahnya diturunkan saat kapal berlabuh di Pulau Saint Helena antara 22-24 April, namun tanpa tes hantavirus, sehingga dikategorikan sebagai probable case oleh WHO.
Istrinya yang berusia 69 tahun turun di Saint Helena dalam kondisi kurang sehat dan kondisinya memburuk saat penerbangan ke Johannesburg pada 25 April. Ia meninggal di rumah sakit sehari setelahnya dan hasil tes pada 4 Mei mengonfirmasi infeksi hantavirus.
Dokter kapal asal Belanda menjadi kasus ketiga, dengan gejala yang muncul pada 30 April dan hasil tes positif strain Andes hantavirus pada 6 Mei. Ia dievakuasi ke Belanda saat kapal singgah di Cape Verde dan dilaporkan dalam kondisi stabil saat menjalani isolasi serta perawatan.
Selain Belanda, dua warga Inggris juga dikonfirmasi terinfeksi hantavirus dan satu lainnya masuk kategori probable case. Seorang pria Inggris jatuh sakit pada 24 April dan dievakuasi dari Pulau Ascension menuju Afrika Selatan untuk mendapat perawatan intensif.
Wabah hantavirus pada kapal pesiar ini memicu perhatian internasional karena penyebaran virus Andes yang dapat menular antar manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan. Namun, WHO menilai risiko bagi masyarakat umum masih rendah dan menegaskan bahwa wabah ini berbeda dengan pandemi seperti Covid-19.
Meski demikian, pihak berwenang di berbagai negara terus melakukan pelacakan kontak dan pemeriksaan kesehatan guna mencegah penyebaran lebih luas. WHO bersama Kementerian Kesehatan Indonesia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tetap waspada terhadap perkembangan kasus hantavirus ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan