Media Kampung – 16 April 2026 | Iran meminta Rusia dan China bergabung dalam negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mencari solusi damai terkait ketegangan di Selat Hormuz, sebuah langkah yang diungkapkan oleh Guru Besar Universitas Indonesia pada konferensi kebijakan luar negeri kemarin. Permintaan tersebut menandai perubahan strategi diplomatik Tehran yang selama ini mengandalkan dukungan bilateral.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menyampaikan dukungannya kepada Iran saat kunjungan resmi ke Beijing pada 14‑15 April 2026. Lavrov menegaskan bahwa Rusia siap membantu melanjutkan dialog antara Tehran dan Washington.

Lavrov juga menegaskan posisi Rusia yang mendukung hak Iran untuk mengembangkan energi nuklir secara damai, dengan menyebut IAEA belum menemukan bukti penggunaan pengayaan uranium untuk tujuan militer. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama pejabat China.

Moskow menawarkan bantuan teknis untuk mengubah uranium yang diperkaya menjadi bahan bakar nuklir atau bahan penyimpanan yang dapat diterima Iran tanpa melanggar hak pengayaan damai. Langkah ini mengingatkan pada bantuan serupa yang diberikan Rusia pada era kesepakatan nuklir Obama.

Pemerintah AS menuntut Iran menghentikan semua program pengayaan uranium dan mengembalikan sekitar 460 kilogram uranium yang diyakini terkubur di bawah tanah, menurut pejabat Gedung Putih yang dikutip CNN. Washington menilai tuntutan tersebut sebagai syarat esensial untuk mengakhiri sanksi.

Teheran menolak menganggap tuntutan AS sebagai wajar, menyebutnya tidak realistis dan melanggar kedaulatan nasional dalam mengelola sumber energi. Iran menegaskan tujuan pengayaan hanya untuk pembangkit listrik dan penggunaan damai.

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Iran mengancam penutupan jalur laut sebagai respons terhadap tekanan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Moskow dan Beijing mengingatkan bahwa penutupan jalur tersebut akan merugikan perdagangan energi global.

Lavrov menegaskan, “Negara‑negara Teluk perlu memahami bahwa Tehran tidak akan menutup Selat Hormuz kecuali dipicu oleh agresi AS.” Pernyataan tersebut menambah tekanan pada Washington untuk menahan kebijakan militer yang dianggap provokatif.

China, sebagai mitra strategis Iran, menyambut baik inisiatif multilateral dan menawarkan platform diplomatik di Beijing untuk mempercepat proses pembicaraan. Beijing menekankan pentingnya penyelesaian damai yang tidak mengganggu stabilitas pasar energi.

Para pakar menilai bahwa keterlibatan Rusia dan China dapat mengubah dinamika perundingan, karena kedua negara memiliki pengaruh politik dan teknis yang signifikan terhadap Tehran. Jika berhasil, solusi nuklir dan keamanan pelayaran dapat terwujud tanpa eskalasi militer.

Pada 16 April 2026, delegasi Iran tiba di Moskow untuk pertemuan lanjutan, dimana kedua belah pihak membahas mekanisme konversi uranium dan jadwal pertemuan dengan pejabat AS di Swiss. Negosiasi tersebut masih dalam tahap awal dan belum menghasilkan kesepakatan final.

Organisasi internasional, termasuk PBB, menyambut baik upaya multilateral ini dan mengingatkan semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk keamanan maritim. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya dialog terbuka dalam menyelesaikan perselisihan nuklir.

Saat ini, dialog antara Iran, Rusia, China, dan AS masih berlangsung, dengan harapan bahwa solusi damai dapat mengurangi risiko penutupan Selat Hormuz dan menstabilkan pasar energi dunia. Guru Besar UI menilai bahwa keterlibatan Rusia dan China merupakan faktor kunci yang dapat menyeimbangkan posisi Tehran dalam negosiasi.

Jika proses ini berhasil, kawasan Teluk berpotensi kembali menjadi jalur perdagangan yang aman, sementara Iran dapat melanjutkan program nuklir damai tanpa tekanan eksternal yang berlebihan. Kondisi ini akan menjadi indikator baru bagi dinamika geopolitik kawasan pada tahun 2026.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.