Media Kampung – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memberikan tanggapan terkait kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke Beijing untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, yang dijadwalkan pada 13 Mei 2026. Boroujerdi menilai kunjungan tersebut sebagai langkah Washington mencari solusi atas tekanan geopolitik yang semakin kompleks.
Dalam pertemuan di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta, Boroujerdi menyampaikan bahwa Trump seringkali menyampaikan informasi yang tidak akurat mengenai situasi di Timur Tengah dan hubungan Iran dengan negara-negara lain. Menurutnya, kunjungan Trump ke Tiongkok mencerminkan kepentingan strategis AS bersama sekutunya, namun juga merupakan respons terhadap tantangan yang tengah dihadapi Washington, baik di kawasan Timur Tengah maupun dalam dinamika ekonomi global.
“Iran memiliki sekutu seperti halnya Amerika Serikat, dan tindakan yang diambil AS saat ini kemungkinan besar merupakan upaya mereka untuk keluar dari situasi sulit,” ujar Boroujerdi menegaskan.
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Iran juga menyinggung isu penting Selat Hormuz yang kembali menjadi perhatian dunia. Ia membantah tuduhan bahwa Iran melakukan blokade terhadap jalur pelayaran strategis ini dan justru menyatakan bahwa pihak yang menutup akses Selat Hormuz adalah Amerika Serikat.
“Selat Hormuz tidak diblokade oleh Iran, melainkan oleh mereka yang tepatnya adalah AS,” tegas Boroujerdi. Ia menekankan posisi Iran yang konsisten agar Selat Hormuz tetap terbuka bagi semua negara tanpa dimanfaatkan secara sepihak. Boroujerdi menambahkan bahwa jalur perdagangan tersebut harus memberikan manfaat bersama bagi negara-negara yang bergantung pada energi dan perdagangan di kawasan tersebut.
“Kami percaya Selat Hormuz harus dapat diakses oleh seluruh pihak. Jika Iran dan sekutunya tidak memperoleh manfaat dari jalur ini, kami tidak akan menerima kondisi tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, sebelum keberangkatannya ke Beijing, Presiden Trump menyatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan bantuan Tiongkok dalam mengakhiri konflik dengan Iran. Sesampainya di Beijing pada Rabu malam, Trump dijadwalkan mengikuti upacara penyambutan, jamuan makan malam kenegaraan, dan pertemuan kerja dengan Presiden Xi Jinping.
Perjalanan Presiden Trump ke Beijing ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah situasi geopolitik yang kompleks dan dinamika hubungan antara AS, Iran, dan Tiongkok yang terus berkembang. Kunjungan ini diharapkan membuka ruang dialog dan strategi baru dalam menghadapi tantangan global yang sedang berlangsung.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan