Media Kampung – Pemerintah India tengah menyiapkan berbagai langkah darurat untuk memperkuat cadangan devisa negara akibat tekanan yang muncul dari konflik yang terjadi di Iran. Dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi, sejumlah opsi seperti kenaikan harga bahan bakar dan pembatasan impor barang non-esensial sedang dibahas secara intensif.

Pejabat dari Kantor Perdana Menteri dan Kementerian Keuangan India telah melakukan diskusi bersama Reserve Bank of India (RBI) guna menentukan kebijakan yang tepat menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang turut berdampak pada perekonomian nasional. Salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan adalah menaikkan harga bahan bakar di dalam negeri untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang di Iran.

Selain itu, pemerintah juga mengkaji kemungkinan memberlakukan pembatasan impor terhadap komoditas seperti emas dan barang elektronik konsumen yang tidak termasuk kebutuhan pokok. Kebijakan ini dirancang untuk menekan defisit transaksi berjalan dan menjaga cadangan devisa agar tetap sehat di tengah situasi global yang tidak menentu.

India, sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, langsung merasakan dampak dari kenaikan harga energi serta gangguan jalur pasokan melalui Selat Hormuz. Lonjakan biaya impor energi memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupee, yang sempat mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan hari Selasa dengan melemah hingga 0,3 persen ke level 95,6313 per dolar AS.

Merespons situasi tersebut, RBI secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa India yang tercatat pada 1 Mei sebesar USD 690,7 miliar menurun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan, namun masih cukup untuk membiayai impor selama 10 hingga 11 bulan ke depan.

Perdana Menteri Narendra Modi juga telah menghimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dengan memanfaatkan transportasi publik dan bekerja dari rumah. Ia juga mengajak warga menunda pembelian emas dan membatasi perjalanan ke luar negeri sebagai bagian dari upaya penghematan devisa.

Ekonom dari Elara Securities India Pvt, Garima Kapoor, menyatakan bahwa seruan Modi mencerminkan realitas yang harus dihadapi negara saat ini. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus memantau kemungkinan pengumuman kenaikan harga bahan bakar secara bertahap serta langkah pembatasan impor emas, disertai upaya mendorong arus masuk modal.

Dalam menghadapi potensi gangguan pasokan energi, pemerintah India bahkan mempertimbangkan pembatasan sementara penarikan devisa untuk kebutuhan non-esensial jika tekanan terhadap cadangan devisa terus berlanjut. Modi dinilai memiliki ruang politik yang cukup kuat untuk melaksanakan kebijakan ini setelah meraih kemenangan besar dalam pemilu negara bagian terbaru.

Selain intervensi pasar, RBI juga telah memperketat aturan perdagangan valuta asing dengan mengurangi batas posisi terbuka harian bank menjadi USD 100 juta guna mengurangi spekulasi. Bank sentral juga sempat menghentikan penawaran kontrak non-deliverable forward kepada pihak non-residen, meski kebijakan tersebut kemudian dicabut.

RBI tengah mengkaji perubahan aturan lindung nilai mata uang bagi importir dan meminta eksportir untuk lebih cepat memulangkan dolar hasil ekspor ke dalam negeri. Langkah-langkah ini diharapkan mampu membantu menjaga stabilitas nilai tukar dan cadangan devisa di tengah ketidakpastian global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.