Media Kampung – Pemerintah Inggris kembali memperluas sanksi terhadap Rusia dengan menyasar Yandex Bank, jaringan intelijen militer, dan puluhan kapal yang diduga menjadi bagian dari armada bayangan Rusia. Paket sanksi terbaru ini diumumkan pada Selasa, 16 Juni 2026, bertepatan dengan kehadiran Perdana Menteri Keir Starmer dalam KTT G7 di Prancis.

Total 70 entitas baru masuk dalam daftar sanksi, termasuk Yandex Bank, WB Bank, Vyatich, dan Evrofinance Mosnarbank. Selain itu, perusahaan asuransi Rosgosstrakh dan Balance Insurance juga terkena sanksi dengan alasan memperoleh keuntungan dari sektor jasa keuangan yang dianggap strategis bagi pemerintah Rusia. Aset mereka yang berada di Inggris akan dibekukan.

Ini merupakan kali pertama negara G7 menjatuhkan sanksi terhadap kapal-kapal yang terkait dengan proyek Arctic LNG 2 milik Rusia. Lebih dari 20 kapal tanker minyak dan beberapa kapal LNG masuk dalam daftar sanksi. Sebelumnya, Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap hampir 600 kapal armada bayangan Rusia.

Dalam operasi penegakan sanksi, komando Inggris pada Minggu lalu mencegat dan menaiki sebuah kapal tanker minyak yang terkena sanksi di Selat Inggris. Langkah ini menunjukkan komitmen Inggris untuk menindak secara langsung pelanggaran sanksi.

Sanksi juga menargetkan jaringan pengadaan militer yang berpusat di Neptune Co Ltd. Jaringan ini dituduh secara diam-diam memperoleh teknologi Barat untuk sektor pertahanan Rusia dan bertindak sebagai front bagi badan intelijen militer GRU.

Perdana Menteri Starmer menegaskan bahwa sanksi ini bertujuan mengganggu upaya yang menopang ekonomi perang Rusia dan mengancam keamanan Eropa. Hingga berita ini diturunkan, baik Kedutaan Besar Rusia di London maupun Yandex belum memberikan tanggapan resmi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.