Media Kampung – 14 April 2026 | Rosatom, perusahaan nuklir milik negara Rusia, mengumumkan rencananya untuk menelaah pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berukuran kecil di Bulan, menandai langkah awal kompetisi sumber daya luar angkasa.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Rosatom, Alexey Likhachev, pada konferensi pers di Moskow pada 12 April 2026, sekaligus menegaskan kerja sama dengan badan antariksa nasional Rusia, Roscosmos.

Proyek awal berfokus pada pembangkit berkapasitas 10 kilowatt (kW) yang dapat dipasang pada satelit atau modul penempatan di permukaan Bulan, dengan berat maksimum 1,2 ton dan masa operasional aman minimal sepuluh tahun.

Likhachev menambahkan bahwa timnya sedang mempertimbangkan versi skala lebih besar yang kira‑kira sepuluh kali lipat kapasitas, yakni sekitar 100 kW, untuk mendukung aktivitas industri lunar yang lebih ambisius.

Menurut pernyataan resmi, kapasitas 10 kW dianggap tidak cukup untuk menggerakkan operasi penambangan logam tanah jarang, produksi oksigen, atau konversi es bulan menjadi bahan bakar roket, yang semuanya dipandang sebagai kunci keberlanjutan kehadiran manusia di luar angkasa.

Desain PLTN lunar mengadopsi teknologi reaktor termal nuklir berpendingin gas, yang dirancang untuk beroperasi dalam kondisi gravitasi rendah dan suhu ekstrem tanpa memerlukan pendingin cair tradisional.

Tim Rosatom menegaskan bahwa semua komponen reaktor akan diproduksi di daratan, kemudian dirakit secara modular di stasiun luar angkasa sebelum dipindahkan ke permukaan Bulan menggunakan lander berkapasitas tinggi.

Rusia tidak menyebutkan secara rinci sumber bahan bakar nuklir yang akan dipakai, namun diperkirakan akan menggunakan uranium‑235 dalam bentuk pelet yang telah terenskripsi untuk mengurangi risiko proliferasi.

Pengembangan PLTN lunar ini muncul bersamaan dengan peningkatan minat negara‑negara lain, termasuk Amerika Serikat, Cina, dan India, yang masing‑masing mengumumkan program energi nuklir atau solar untuk misi berkelanjutan di Bulan.

Para analis energi menganggap proyek Rosatom sebagai upaya strategis untuk memperkuat posisi Rusia dalam arena geopolitik luar angkasa, terutama mengingat ketergantungan global pada pasokan energi konvensional yang semakin tidak stabil.

Sejumlah pakar juga menyoroti implikasi keamanan, mengingat sejarah kecelakaan nuklir dan potensi kontaminasi radioaktif pada lingkungan lunar yang belum dipahami sepenuhnya.

Meski demikian, Likhachev menegaskan bahwa semua prosedur keamanan akan mengikuti standar internasional yang ditetapkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan bahwa simulasi komputer telah menunjukkan tingkat kegagalan yang sangat rendah.

Pemerintah Rusia berencana mengajukan proposal resmi kepada Komite Luar Angkasa Internasional pada akhir 2026, dengan harapan memperoleh izin operasi dan pendanaan tambahan dari mitra komersial.

Sementara itu, Indonesia, melalui Menteri Energi Bahlil Lahadalia, juga menjalin kerja sama energi dengan Rusia, menunjukkan bahwa hubungan bilateral di bidang energi semakin meluas, meski fokus utama Indonesia masih pada pasokan minyak dan gas bumi.

Secara keseluruhan, proyek PLTN lunar Rusia menandai babak baru dalam persaingan sumber daya luar angkasa, dimana teknologi nuklir dipandang sebagai katalisator utama untuk membuka potensi ekonomi di permukaan Bulan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.