Media Kampung – Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi spesies terong berduri baru yang berasal dari Kalimantan dengan nama Solanum kalimantanense. Penemuan ini mengukuhkan potensi besar Indonesia dalam menyimpan kekayaan biodiversitas yang belum sepenuhnya terdokumentasi secara ilmiah.

Spesies baru ini mendapatkan nama Solanum kalimantanense sebagai penghormatan kepada para peneliti yang menemukan dan mendeskripsikannya, yaitu Tutie Djarwaningsih, Esthi L. Agustiani, dan Muhammad Rifqi Hariri, yang merupakan bagian dari tim peneliti BRIN. Peneliti Muhammad Rifqi Hariri menjelaskan bahwa Solanum kalimantanense memiliki ciri khas morfologi yang membedakannya dari spesies terong lainnya, seperti bentuk daun yang hampir seimbang antara panjang dan lebar, lekukan daun yang dangkal, serta buah matang yang berbulu halus dengan ukuran lebih besar dibandingkan kerabat terdekatnya, Solanum lasiocarpum.

Analisis genetik menggunakan penanda ITS mengungkapkan perbedaan signifikan antara Solanum kalimantanense dengan spesies terong lain, memperkuat statusnya sebagai spesies baru. Peneliti lain, Tutie Djarwaningsih, menambahkan bahwa tanaman ini dikenal oleh masyarakat lokal dengan sebutan terong asam atau terong dayak dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buahnya sering ditemukan di pasar terapung Banjarmasin dan biasa diolah sebagai sayuran.

Selain sebagai sumber pangan, tanaman ini juga memiliki nilai pengobatan tradisional. Daun dan kuncup buahnya dimanfaatkan penduduk di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, sebagai obat tradisional yang disebut wikat untuk terapi kanker. Hal ini menunjukkan adanya potensi multifungsi dari Solanum kalimantanense bagi masyarakat setempat.

Esthi L. Agustiani mengungkapkan bahwa spesies ini tumbuh di berbagai tipe tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, dengan rentang ketinggian antara 9 hingga 1700 meter di atas permukaan laut. Wilayah penyebarannya meliputi beberapa daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, menandakan adaptasi yang luas dan keberadaan yang relatif melimpah.

Penemuan Solanum kalimantanense ini menjadi bagian dari upaya BRIN untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati Indonesia yang masih banyak menyimpan spesies yang belum dikenal, khususnya di wilayah Kalimantan dan Papua yang masih minim eksplorasi ilmiah. Peneliti BRIN Deden Girmansyah menegaskan bahwa potensi penemuan spesies baru masih sangat besar dan penting untuk mempercepat identifikasi agar spesies tersebut tidak hilang akibat kerusakan habitat.

Keterbatasan jumlah ahli taksonomi di Indonesia menjadi tantangan utama dalam mendukung proses identifikasi dan pelestarian spesies baru. BRIN berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni bidang taksonomi agar kekayaan biodiversitas nasional dapat terjaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Penemuan ini tidak hanya menambah khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka peluang pengembangan pemanfaatan tanaman lokal secara lebih luas, baik sebagai bahan pangan, obat tradisional, maupun tanaman hias. Solanum kalimantanense menjadi contoh nyata bahwa kekayaan alam Indonesia masih menyimpan banyak potensi yang menunggu untuk diungkap dan dilestarikan demi masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.