Media Kampung, Padang — Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Azrimaidaliza, menegaskan bahwa status gizi perempuan sebelum dan selama kehamilan merupakan faktor utama yang menentukan kualitas kesehatan generasi mendatang. Menurutnya, upaya melahirkan generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting harus dimulai sejak masa remaja.

Prof. Azrimaidaliza mengungkapkan, Indonesia masih menghadapi triple burden of malnutrition, yaitu stunting, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas. Permasalahan gizi tidak hanya disebabkan kurangnya asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan sepanjang siklus kehidupan.

“Status gizi perempuan sebelum hamil maupun selama kehamilan sangat menentukan kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Perempuan yang memasuki masa kehamilan dengan kondisi gizi baik memiliki peluang lebih besar melahirkan bayi dengan status gizi optimal, sedangkan kekurangan gizi sejak remaja dapat meningkatkan risiko anemia, kurang energi kronis, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga stunting pada generasi berikutnya,” ujarnya di ruang kerjanya, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan, masalah gizi pada ibu merupakan akumulasi berbagai faktor sejak usia remaja, seperti pola makan yang kurang sehat, rendahnya aktivitas fisik, pengaruh media sosial, lingkungan keluarga, hingga minimnya pengetahuan tentang gizi. Berdasarkan hasil penelitiannya, sekitar sepertiga remaja putri di salah satu wilayah Sumatera Barat masih mengalami gizi kurang, sementara hampir 20 persen memiliki asupan protein yang belum mencukupi, sehingga berpotensi berlanjut hingga masa kehamilan.

“Hasil penelitian kohort kami menunjukkan ibu hamil dengan asupan energi kurang dari 1.800 kilokalori per hari memiliki risiko 1,7 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat lahir di bawah tiga kilogram. Sementara ibu hamil dengan asupan protein kurang dari 65 gram per hari berisiko 3,6 kali lebih tinggi melahirkan bayi dengan panjang lahir di bawah 48 sentimeter,” tambahnya.

Selain faktor individu, ketahanan pangan keluarga juga menjadi penentu penting dalam pemenuhan gizi ibu hamil. Penelitian di Kabupaten Pesisir Selatan menunjukkan lebih dari separuh ibu hamil berada dalam kondisi rawan pangan yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi keluarga, sehingga meningkatkan risiko anemia dan kurang energi kronis.

Prof. Azrimaidaliza menegaskan bahwa investasi terbaik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah memastikan perempuan memiliki status gizi yang baik sebelum memasuki masa kehamilan. Menurutnya, perbaikan gizi sejak remaja hingga masa kehamilan perlu dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor untuk memutus rantai masalah gizi antargenerasi sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 yang bebas stunting.