Media Kampung – Institut Teknologi Bandung melalui Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) mengadakan seminar dan lokakarya bertajuk More Than Coffee yang membahas sains kopi secara mendalam. Kegiatan yang berlangsung dari 1 hingga 3 Mei 2026 ini mengajak para akademisi dan praktisi kopi untuk mengeksplorasi berbagai aspek ilmiah di balik secangkir kopi.

Kegiatan yang diadakan di Ruang Seminar Lantai 3 Gedung Labtek XI SITH ITB Kampus Ganesha tersebut menampilkan pendekatan multidisiplin. Kopi tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga sebagai objek penelitian yang kompleks mulai dari biologi molekuler, proses fermentasi yang terstandarisasi, hingga teknologi instrumentasi modern untuk menentukan kualitas biji kopi.

Dalam sambutannya, Dekan SITH ITB, Dr. Indra Wibowo, menyampaikan bahwa acara ini menjadi wadah kolaborasi lintas fakultas di ITB, seperti SITH, FMIPA, FTI, Sekolah Farmasi, dan FTMD. Ia menegaskan bahwa pendekatan sains dari berbagai sudut pandang, mulai dari deteksi varietas kopi, potensi kesehatan, hingga proses fisik roasting, sangat penting untuk meningkatkan kualitas kopi lokal. “Kami mendukung program pengabdian masyarakat yang membawa sains langsung ke petani kopi,” ujarnya.

Ketua pelaksana sekaligus pakar mikrobiologi SITH ITB, Intan Taufik, menegaskan pentingnya menggeser metode pascapanen kopi dari cara tradisional ke pendekatan yang lebih terukur melalui Precision Coffee Fermentation. Ia menjelaskan bahwa mikroba berperan sebagai pemimpin dalam menciptakan cita rasa kopi, sehingga dengan pengendalian mikroba, profil rasa bisa dirancang secara spesifik dan konsisten.

Hari pertama seminar menghadirkan berbagai materi inovatif dari beragam disiplin ilmu. Prof. Dr. Suprijanto dari FTI memaparkan teknologi imaging berbasis kontrol dan otomasi untuk proses grading kopi yang lebih akurat. Sementara Ir. Poetro Lebdo Sambegoro dari FTMD mengulas fisika roasting, khususnya mekanisme perpindahan panas pada biji kopi saat proses sangrai.

Teknologi deteksi varietas kopi dengan alat molekuler juga diperkenalkan oleh Husna Nugrahapraja dari SITH ITB. Alat ini memungkinkan identifikasi akurat jenis robusta dan arabika hanya dengan sampel daun. Di sisi lain, Dr. Nizar Happyana dari Sekolah Farmasi membahas senyawa kompleks dalam kopi yang berkontribusi pada kesehatan manusia.

Setelah sesi teori, peserta diajak mencoba cupping test interaktif yang dipandu oleh tim Catur Group. Melalui metode batch brewer dengan pengaturan suhu ketat, para peserta membandingkan karakter rasa kopi dari berbagai perlakuan pascapanen. Nuansa seperti fruity, floral, hingga bright acidity terlihat jelas, menunjukkan pengaruh mikroba yang berbeda pada tiap sampel.

Lokakarya pada hari kedua difokuskan pada fermentasi kopi yang dipandu oleh Intan Taufik bersama Syifa Salsabila dari Catur Group. Peserta melakukan pengukuran parameter fermentasi seperti pH, suhu, dan kadar gula secara langsung. Kegiatan juga mencakup praktik laboratorium, kunjungan ke fasilitas produksi, pengeringan, serta observasi mikroorganisme menggunakan sampel di cawan petri.

Puncak acara pada hari ketiga menampilkan lokakarya Controlled Coffee Fermentation Hands-On yang mengintegrasikan pengetahuan dari dua hari sebelumnya ke dalam praktik komprehensif. Inisiatif ini diharapkan menjadi pijakan dalam membangun standar baru industri kopi Indonesia yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga konsisten dan kompetitif di tingkat global.

Melalui seminar dan lokakarya More Than Coffee, SITH ITB menekankan pentingnya penerapan sains dan teknologi dalam mengembangkan kopi Indonesia. Rangkaian acara ini membuka jalan bagi kolaborasi lintas disiplin serta inovasi yang dapat langsung berdampak pada peningkatan kualitas kopi petani lokal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.