Media Kampung – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengubah limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi sumber energi terbarukan dan bahan baku industri. Inovasi ini bertujuan mendukung transisi energi sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
Limbah Sawit yang Melimpah
Tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah perkebunan dengan volume sangat besar. Selama ini, keberadaannya menjadi tantangan bagi industri karena sulit terurai dan membutuhkan lahan luas untuk penimbunan. Melalui teknologi pirolisis, BRIN berupaya mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sawit yang melimpah ini.
Cara Kerja Pirolisis
Pirolisis adalah proses pemanasan biomassa tanpa oksigen. Terdapat tiga metode: pirolisis lambat, cepat, dan sangat cepat. Saat ini, fasilitas reaktor BRIN mampu mengolah TKKS menggunakan metode pirolisis lambat dengan durasi sekitar dua hingga empat jam.
Tiga Produk Utama Pirolisis
Proses pirolisis TKKS menghasilkan tiga produk utama yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pemanfaatan luas:
- Asap cair: Berpotensi sebagai pelapis alami untuk memperpanjang umur simpan buah-buahan. Hasil riset juga menunjukkan peluang pengembangannya menjadi material film untuk membantu penyembuhan luka rongga mulut.
- Minyak biomassa (bio-oil): Saat ini sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler di sektor industri. Meskipun belum bisa langsung menjadi bahan bakar kendaraan, kandungan senyawa kimianya berpotensi dikembangkan sebagai bahan aditif bensin.
- Arang hayati (bio-char): Dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pembenah tanah atau bahan bakar padat.
Minyak biomassa dan asap cair mengandung senyawa organik seperti fenol, asam asetat, keton, dan metanol yang banyak dibutuhkan sebagai bahan baku industri kimia.
Dampak dan Harapan
Ketua Tim Riset Pirolisis Minyak Biomassa Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dieni Mansur, menyatakan bahwa pemanfaatan limbah biomassa sebagai energi dan bahan kimia berbasis hayati menjadi strategi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. “Minyak pirolisis dikembangkan untuk mendukung diversifikasi energi nasional,” ujarnya.
Penelitian ini tidak hanya menawarkan solusi terhadap penumpukan limbah perkebunan, tetapi juga menghadirkan alternatif penyediaan energi terbarukan yang bernilai tambah ekonomi. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong efisiensi sumber daya dan pengurangan dampak lingkungan.
Ke depan, BRIN berharap teknologi pirolisis TKKS dapat diadopsi lebih luas oleh industri. Dengan ketersediaan biomassa sawit yang melimpah, pengembangan ini dinilai sebagai peluang strategis bagi Indonesia untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan