Media Kampung – Phonopolis, game terbaru dari Amanita Design yang dikenal lewat Botanicula dan Chuchel, hadir sebagai perpaduan unik antara dunia distopia ala 1984 dan komedi slapstick ala Keystone Kops yang justru berhasil memikat pemain. Game ini mengisahkan perjuangan seorang tokoh bernama Felix yang tanpa sengaja berhadapan dengan rezim totaliter yang berusaha menghilangkan kemanusiaan masyarakatnya melalui kekuatan Absolute Tone.

Dalam Phonopolis, pemain akan merasakan nuansa dunia yang dikendalikan ketat oleh sistem pengawasan dan penindasan, di mana kelas sosial ditegakkan secara keras dan wacana yang dianggap salah (wrongthink) dihukum tanpa ampun. Rezim ini dipimpin oleh sosok The Leader, yang menyerupai figur Big Brother, menjadikan masyarakatnya patuh penuh di bawah pengaruhnya. Visual game ini sangat mencerminkan atmosfer suram tersebut, menambah kedalaman cerita yang disajikan.

Berbeda dari kebanyakan game petualangan dengan teka-teki rumit, Phonopolis menghadirkan puzzle yang relatif sederhana dan lebih terasa seperti mainan interaktif daripada tantangan serius. Contohnya, dalam satu adegan pelarian dari penjara, jika Felix ketahuan oleh sorotan lampu, alarm berbunyi dan ia harus mencari perlindungan, namun tidak ada konsekuensi berat seperti pengulangan tahap. Hal ini membuat pengalaman bermain tetap ringan meski bertema berat.

Musik menjadi elemen sentral dalam Phonopolis, yang juga merupakan ciri khas Amanita Design. Kali ini, musik karya Tomáš Dvořák alias Floex membawa nuansa lembut dan menenangkan yang kontras dengan kebisingan dunia permainan yang penuh tekanan dan pengawasan. Soundtrack ini memperkuat atmosfer sekaligus memberikan jeda emosional bagi pemain.

Meskipun tema yang diangkat cukup serius dan gelap, Amanita Design menyelipkan unsur humor dan kekonyolan yang mengingatkan pada gaya khas mereka, seperti yang terlihat dalam Chuchel. Para penegak rezim dalam game ini lebih mirip sekelompok petugas kacau ala Keystone Kops dibandingkan aparat represif yang menakutkan, memberikan sentuhan komedi yang menyegarkan.

Phonopolis juga secara eksplisit terinspirasi oleh karya-karya Karel Čapek dan George Orwell, yang karyanya sering mengangkat tema otoritarianisme dan pengawasan. Dengan latar tersebut, game ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tapi juga menyuguhkan kritik sosial yang relevan dengan kondisi zaman sekarang. Namun, suasana yang agak suram membuatnya terasa berbeda dibandingkan judul-judul Amanita sebelumnya yang lebih ceria dan optimis.

Game ini sudah tersedia di platform Steam, Epic Games, dan GOG dengan harga sekitar 22,49 dolar AS atau setara, juga menawarkan edisi kolektor yang mencakup buku seni digital dan soundtrack. Sebelum membeli, pemain bisa mencoba demo yang tersedia untuk merasakan pengalaman awal dari dunia Phonopolis.

Dengan kombinasi cerita yang kuat, desain visual dan suara yang mendalam, serta gameplay yang menyenangkan dan ringan, Phonopolis memperlihatkan bahwa Amanita Design tetap mampu menghadirkan pengalaman baru yang segar dan bermakna. Game ini menjadi bukti bahwa penggabungan elemen distopia klasik dan komedi slapstick bisa berjalan efektif jika dikemas dengan baik.

Phonopolis mengajak pemain untuk menyelami sebuah kisah perjuangan melawan penindasan dengan cara yang tidak biasa, membawa suasana serius namun tetap menghibur, dan menjadi tambahan menarik dalam portofolio Amanita Design yang sudah dikenal akan kualitas dan kreativitasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.