Media KampungDerelict Star, sebuah game indie platformer aksi yang dirilis awal April, menjadi perbincangan hangat setelah Jonathan Blow, pencipta game Braid dan The Witness, menyatakan frustrasinya hingga rage quit saat mencoba game ini. Meskipun Blow mengkritik kontrol yang dianggapnya clunky dan tantangan yang membosankan, banyak penggemar platformer justru menganggap Derelict Star sebagai salah satu game indie platformer paling menarik dalam beberapa tahun terakhir.

Jonathan Blow mengungkapkan ketidaksenangannya melalui media sosial X, menyebut bahwa level awal Derelict Star membuatnya berhenti bermain karena frustrasi. Ia menganggap kontrol game tersebut kurang halus dan tantangan yang disajikan tidak menarik, sehingga menghambat akses ke lapisan gameplay yang lebih dalam. Namun, kritik ini mendapat tanggapan berbeda dari para pemain dan terutama dari pengembang game itu sendiri, John Williams, yang dikenal dengan nama samaran gate.

Derelict Star mengisahkan petualangan seorang astronot tanpa nama yang terjebak dalam pesawat luar angkasa yang kehabisan daya. Untuk bertahan hidup dan pulang, pemain harus mengambil sel daya dari kapal kargo yang ditinggalkan. Game ini mengusung gaya visual pixel art yang unik, menggabungkan estetika era Atari 2600 dan 8-bit dengan sentuhan yang sangat presisi demi mendukung gameplay platformer yang menuntut ketelitian gerak dan momentum.

Gameplay Derelict Star sangat menekankan penguasaan momentum dan kecepatan, dengan mekanik jetpack yang memungkinkan pemain melompat dan melayang dengan kontrol yang terasa realistis dan halus setelah beberapa menit pembelajaran. Pemain harus memahami cara memanfaatkan kecepatan lari dan teknik memantul dari dinding untuk melewati rintangan yang awalnya tampak mustahil.

John Williams menjelaskan bahwa Derelict Star terinspirasi oleh game seperti N dan Super Mario World, khususnya dalam hal pemanfaatan momentum dan mekanik fisika karakter. Ia menyoroti bahwa game ini bertujuan untuk menyajikan pengalaman platformer dengan fokus pada kedalaman sistem gerak dan bukan sekadar tantangan melompat yang konvensional. Williams juga mengkritik tren platformer indie yang minim momentum, dan ingin memberikan sesuatu yang lebih dalam aspek mekanik gerakan.

Menanggapi kritik Blow, Williams percaya bahwa Blow salah memahami tujuan utama game ini. Derelict Star memang tidak menyembunyikan teka-teki petualangan di balik tutorial yang sulit, melainkan mengajak pemain mendalami sistem gerak itu sendiri sebagai inti dari pengalaman bermain. Ia menolak anggapan bahwa beberapa desain kontrol yang dipilih adalah kesalahan objektif, karena setiap keputusan desain selalu menghadirkan kompromi sesuai visi kreatif.

Meski demikian, opini Jonathan Blow tetap menjadi sorotan yang memperbesar perhatian terhadap Derelict Star, terutama di kalangan penggemar platformer yang menghargai kompleksitas mekanik gerak dan momentum. Game ini menawarkan tantangan yang memuaskan sekaligus memperkaya pengalaman bermain dengan detail yang membuat setiap kegagalan tetap terasa memuaskan.

Derelict Star kini menjadi pilihan menarik bagi pecinta genre platformer yang mencari pengalaman baru dengan pendekatan fisika dan momentum yang mendalam. Dengan visual yang menggugah nostalgia dan gameplay yang menuntut ketelitian, game ini berpotensi menjadi favorit baru di kalangan komunitas indie.

Kesimpulannya, walau Jonathan Blow merasa frustrasi dan tidak cocok dengan Derelict Star, game ini berhasil mencuri perhatian para pemain yang menikmati tantangan gerak dan momentum. Derelict Star membuktikan bahwa platformer dengan kontrol unik dan fokus pada fisika karakter masih memiliki tempat di dunia game indie saat ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.