Media Kampung – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan heran dengan sorotan lembaga pemeringkat global terhadap defisit fiskal Indonesia yang menurutnya masih terkendali. Dalam konferensi pers APBN bulanan di Jakarta, Jumat (5/6/2026), ia juga menegaskan bahwa ekonomi riil Indonesia tidak seburuk gambaran di media sosial.

Data Ekonomi Riil Menunjukkan Kekuatan

Purbaya memaparkan sejumlah indikator positif. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, sementara inflasi Mei 2026 terkendali di 3,08 persen. Neraca perdagangan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, dan cadangan devisa setara 5,6 bulan impor. Kredit perbankan tumbuh hampir 12 persen pada Mei 2026, sektor manufaktur berada di zona ekspansi, dan Mandiri Spending Index mencapai 123,2 dan terus meningkat. Penjualan motor dan mobil pasca-Lebaran 2026 masing-masing naik 28 persen dan 55 persen, sementara konsumsi semen domestik melonjak 35,6 persen pada April 2026.

Defisit Fiskal di Bawah 3 Persen

Purbaya menekankan bahwa defisit APBN selalu dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB, dengan realisasi 2025 sebesar 2,81 persen. Ia optimistis defisit 2026 akan tetap di bawah 3 persen meskipun ada tekanan harga minyak dan beban subsidi BBM dan listrik. Sebagai perbandingan, defisit Amerika Serikat mencapai 5 persen, dan rasio utang Indonesia di bawah 60 persen jauh lebih rendah dibandingkan Jepang (275 persen) atau AS (100 persen).

Komitmen pada Disiplin Fiskal

Meskipun ada ruang untuk meningkatkan alokasi daerah, pemerintah tetap memprioritaskan target defisit di bawah 3 persen. Purbaya menjamin peningkatan Transfer Ke Daerah (TKD) sekitar Rp 40-90 triliun, didukung pertumbuhan penerimaan pajak 22,1 persen secara tahunan. Langkah ini penting untuk mempertahankan kepercayaan lembaga dunia di tengah gejolak pasar keuangan global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.