Media Kampung – Penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan bilateral Indonesia-Tiongkok mencapai 22,61 miliar dolar AS pada periode Januari hingga April 2026. Angka ini melonjak 309 persen secara tahunan, menjadikan Tiongkok sebagai kontributor terbesar dalam transaksi yang menggunakan mata uang lokal kedua negara.
Skema LCT memungkinkan pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok menyelesaikan transaksi perdagangan dan investasi langsung menggunakan rupiah dan yuan, tanpa melalui dolar AS sebagai mata uang perantara. Bank Indonesia (BI) menyebut kerja sama dengan People’s Bank of China (PBOC) ini memberikan efisiensi transaksi, penurunan biaya konversi, dan dukungan terhadap stabilitas keuangan.
Selama ini, dominasi dolar AS dalam perdagangan global membuat fluktuasi nilai tukar dolar berdampak langsung pada harga barang impor, inflasi, dan kebijakan moneter negara lain. Konsep yang dikenal sebagai dominant currency paradigm ini menjelaskan mengapa negara seperti Indonesia harus menanggung risiko mata uang yang tidak berkaitan langsung dengan hubungan dagang riilnya.
LCT berupaya mengurangi risiko tersebut dengan mengurangi ketergantungan berlebihan terhadap dolar AS. Praktik serupa juga dilakukan Indonesia dengan Malaysia dan Thailand untuk mendorong penggunaan rupiah, ringgit, dan baht dalam transaksi perdagangan kawasan. India pun mengambil jalur serupa untuk memperkuat perdagangan dengan mata uang lokal.
Bagi pelaku usaha, dampak LCT cukup nyata. Importir yang membeli barang dari Tiongkok dapat mengurangi lapisan konversi mata uang, sehingga biaya transaksi lebih rendah dan risiko nilai tukar lebih terkendali. Eksportir juga lebih fleksibel dalam mengelola pendapatan tanpa harus selalu menanggung risiko tambahan akibat perubahan nilai dolar AS.
Meski demikian, LCT bukanlah solusi tunggal untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Dalam jangka pendek, BI tetap perlu menjaga stabilitas melalui bauran kebijakan moneter, intervensi valas, pendalaman pasar, dan koordinasi fiskal. Untuk jangka panjang, cara terbaik menjaga rupiah adalah mengurangi alasan ekonomi untuk terus bergantung pada dolar AS.
LCT bukan gerakan anti-dolar, melainkan strategi untuk meningkatkan efisiensi dan memitigasi risiko transaksi. Dolar AS masih menjadi mata uang utama dunia dalam cadangan devisa global, harga komoditas, dan pasar keuangan. Namun, dengan semakin banyak perdagangan dan investasi yang menggunakan mata uang lokal, tekanan terhadap kebutuhan dolar AS dapat berkurang secara bertahap.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan