Media Kampung – Praktik tumpangsari pisang di areal perkebunan kelapa sawit masih menjadi pilihan sebagian petani untuk menambah pendapatan, terutama saat tanaman belum menghasilkan atau produktivitas kebun belum optimal. Namun, pengelolaan yang tidak cermat berisiko menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) sawit. Praktisi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Djan Muhayat, mengingatkan bahwa populasi dan jenis pisang yang ditanam harus dikendalikan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama.

Dampak Tumpangsari terhadap Produksi Sawit

Menurut Djan, tumpangsari pisang diperbolehkan selama populasinya terkendali dan tidak menimbulkan persaingan berlebihan terhadap cahaya matahari. Kelapa sawit membutuhkan intensitas cahaya optimal untuk fotosintesis dan pembentukan buah. Keberadaan tanaman sela yang terlalu rapat dapat menurunkan produktivitas kebun dalam jangka panjang. Sebagai contoh, kebun dengan populasi sekitar 251 pohon per hektare yang dikombinasikan dengan tumpangsari berpotensi menghasilkan produksi maksimal sekitar 25 ton per hektare. Sementara pada populasi yang lebih ideal dengan ruang tumbuh lebih baik, produksi dapat menembus lebih dari 30 ton per hektare. Jarak tanam yang lebih longgar juga memungkinkan tandan berukuran lebih besar karena penyinaran lebih merata.

Pemilihan Varietas Pisang yang Tepat

Jenis pisang yang dipilih menentukan tingkat risiko terhadap kebun sawit. Pisang kepok dinilai memerlukan perhatian lebih karena memiliki banyak anakan yang dapat berkembang cepat dan mendominasi ruang tumbuh. “Jika anakan pisang dibiarkan terlalu banyak, tanaman sawit berisiko kehilangan akses sinar matahari yang merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis dan pembentukan produksi,” ujar Djan. Sebaliknya, varietas seperti pisang barangan atau pisang raja dianggap lebih aman karena jumlah anakannya relatif sedikit dan cenderung berhenti berkembang setelah beberapa kali berbuah.

Keuntungan Efisiensi Pupuk

Meskipun berpotensi menekan produksi, sistem tanam dengan populasi lebih rendah dan pengaturan ruang yang baik memberikan keuntungan berupa efisiensi penggunaan pupuk. Djan menyebut kebutuhan pupuk akan mengikuti jumlah tanaman yang dipelihara. Dengan populasi lebih sedikit, biaya pemupukan dapat ditekan sehingga menjadi pertimbangan tersendiri bagi petani dalam menentukan pola pengelolaan kebun.

Rekomendasi Praktisi PPKS

Djan menyarankan petani yang ingin menerapkan tumpangsari tetap memperhatikan jenis tanaman pendamping yang digunakan serta rutin mengendalikan jumlah anakan pisang, khususnya pada varietas yang memiliki kemampuan berkembang biak tinggi. “Silakan melakukan tumpangsari, tetapi pilih varietas pisang yang anakannya tidak terlalu banyak agar tidak mengganggu pertumbuhan kelapa sawit,” pungkasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.