Media Kampung – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin pagi, melemah 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp 17.813 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.804 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia yang dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Lebanon.

Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh faktor global, terutama kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait klasifikasi pasar saham Indonesia juga menjadi perhatian pasar. MSCI sebelumnya telah mengeluarkan laporan aksesibilitas pasar saham Indonesia yang masih masuk kategori Emerging Markets (EMs) pada 18 Juni lalu.

Dampak Keputusan MSCI

Pada Selasa (23/6) malam waktu AS, MSCI dijadwalkan mengeluarkan laporan annual market classification review. Penilaian ini tidak hanya mempertimbangkan transparansi informasi, tetapi juga risiko politik dan ekonomi Indonesia. Hasil review ini akan menentukan apakah pasar saham Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori emerging markets atau diturunkan statusnya.

Risiko Tata Niaga Ekspor

Rully Nova juga menyoroti rencana tata niaga ekspor komoditas strategis melalui satu pintu lembaga pemerintah. Menurutnya, tata kelola tersebut dinilai sangat berisiko karena perangkat peraturan dan perundangan belum diperbarui. Contohnya, undang-undang penanaman modal yang berlaku saat ini masih menggunakan koridor lama.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dari kenaikan harga minyak dan ketidakpastian domestik terkait kebijakan ekspor serta evaluasi MSCI, rupiah diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.