Media Kampung – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz menjadi sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah kekhawatiran investor asing yang masih melakukan aksi jual besar-besaran. Meski penguatan terjadi, sejumlah analis mengingatkan bahwa volatilitas masih akan mewarnai pergerakan pasar, terutama menjelang pengumuman hasil review MSCI pada 18 dan 23 Juni 2026.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan bahwa kesepakatan damai AS-Iran membawa angin segar bagi pasar keuangan Indonesia. Menurutnya, respons positif pasar sudah terlihat sejak isu perdamaian muncul, yang tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah dan kenaikan IHSG. Faisal menambahkan, kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin turut memperkuat kepercayaan investor untuk masuk ke Indonesia.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai, dampak paling langsung dari meredanya ketegangan geopolitik adalah penurunan harga minyak dunia. Hal ini menguntungkan Indonesia sebagai negara pengimpor energi karena dapat menekan inflasi dan memperbaiki neraca perdagangan. Dalam jangka pendek, sentimen ini memperbaiki market sentiment dan risk appetite investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di Bursa Efek Indonesia. Sektor-sektor yang berpotensi diuntungkan antara lain transportasi, aviasi, logistik, manufaktur, dan konsumsi, karena beban biaya operasional yang lebih rendah.

Namun, di sisi lain, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual besar-besaran dalam beberapa hari terakhir. Data menunjukkan bahwa arus modal asing keluar dari pasar saham Indonesia, meskipun IHSG menguat. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan penguatan IHSG ke depannya. Analis Investment Analyst Lead Stockbit Group, Edi Chandren, memaparkan empat skenario yang mungkin terjadi terkait hasil review MSCI. Skenario sangat positif adalah jika pembekuan indeks dicabut dan status emerging market dipertahankan. Skenario positif lainnya adalah jika pembekuan tetap ada namun MSCI memberikan tone positif terhadap transparansi data kepemilikan saham Indonesia.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa investor masih menunggu rincian implementasi kesepakatan AS-Iran. Ia mengingatkan potensi konsolidasi setelah reli tajam yang terjadi. Sementara itu, IHSG pada perdagangan Rabu (17/6) dibuka menguat 1,07 persen ke level 6.321,96, melanjutkan tren positif setelah sehari sebelumnya melesat 4,04 persen.

Ke depan, arah IHSG akan sangat dipengaruhi oleh hasil review MSCI dan keberlanjutan stabilitas geopolitik global. Jika MSCI memberikan keputusan positif, bukan tidak mungkin IHSG akan kembali ke level sebelum krisis. Namun, jika hasilnya negatif, tekanan jual asing bisa semakin besar. Para pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan dan tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.