Media Kampung – Nilai tukar rupiah diproyeksikan berpeluang menguat hingga ke level Rp 17.682 per dolar AS pada pekan depan. Tren positif ini ditopang oleh derasnya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik serta masuknya devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri.
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, mengatakan bahwa penguatan rupiah masih terbuka, meskipun pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif. Menurutnya, level Rp 17.682 bisa tercapai jika tren penguatan berlanjut, dengan resistensi di kisaran Rp 18.221.
Myrdal menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada pekan lalu didorong oleh masuknya dana investor asing ke berbagai instrumen keuangan domestik, seperti pasar saham, Surat Utang Negara (SUN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain itu, realisasi DHE yang dikonversi oleh eksportir ke rupiah turut meningkatkan pasokan dolar di pasar domestik.
Meski demikian, pergerakan rupiah ke depan tetap dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Myrdal menilai, jika kesepakatan damai AS-Iran terealisasi dan akses pelayaran melalui Selat Hormuz kembali dibuka, arus modal asing berpotensi semakin deras mengalir ke Indonesia.
Pasar juga menanti keputusan The Fed terkait arah suku bunga acuan. Myrdal berharap bank sentral AS tidak menaikkan suku bunga agar likuiditas global tetap mendukung aliran dana ke negara berkembang. Sementara itu, di dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) terkait BI-Rate. Stabilitas rupiah yang terjaga dinilai memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menambahkan bahwa indeks dolar AS melemah pada Jumat (12/6) di tengah optimisme kesepakatan damai AS-Iran. Namun, data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan mendorong pasar kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 5 persen pada 2026, naik dari sebelumnya 4,7 persen. Meski demikian, Bank Dunia mencatat risiko seperti terbatasnya ruang fiskal dan beban subsidi akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak global.
Pada perdagangan Jumat (12/6), rupiah ditutup menguat 128 poin ke level Rp 17.860 per dolar AS. Untuk perdagangan Senin pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran level tersebut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan