Media Kampung – Pembangunan Sentra Garam Rote Ndao dipercepat sebagai langkah strategis pemerintah mewujudkan swasembada garam nasional pada 2027. Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menjadi proyek andalan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam industri.
Kebutuhan garam nasional pada 2024 mencapai sekitar 4,8 juta ton, namun lebih dari 55 persennya masih dipenuhi melalui impor. Dalam lima tahun terakhir, Indonesia rata-rata mengimpor lebih dari 2,6 juta ton garam setiap tahun, padahal negara ini memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia.
KKP menyatakan bahwa pembangunan K-SIGN di Rote Ndao merupakan jawaban atas kebutuhan strategis bangsa. Program ini tidak hanya menjadi pusat produksi garam, tetapi juga simbol kemandirian, keberlanjutan, dan keadilan sosial bagi masyarakat pesisir. Garam merupakan komoditas strategis yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pangan, industri kimia, manufaktur, kesehatan, dan farmasi.
Pembangunan K-SIGN dilakukan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan perlindungan ekosistem pesisir. Seluruh proses telah melalui kajian teknis, pemenuhan persyaratan lingkungan, serta perizinan sesuai ketentuan. KKP juga telah menanam mangrove seluas 24 hektare di sekitar kawasan pada 2025, dan akan dilanjutkan pada 2026 dengan target 100 hektare di Kabupaten Rote Ndao. Penanaman mangrove berfungsi menjaga ekosistem pesisir, mengurangi abrasi, meredam gelombang, serta menjaga keseimbangan lingkungan.
KKP memastikan pembangunan kawasan industri garam melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah melalui forum konsultasi publik, sosialisasi, dan koordinasi teknis. Keberadaan K-SIGN diharapkan memperkuat ketahanan garam nasional, menciptakan lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan UMKM, serta menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di Rote Ndao. KKP membuka ruang dialog dan menerima masukan konstruktif dari seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pembangunan berjalan inklusif, transparan, dan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan