Media Kampung – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan, mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) telah memperketat aturan pembelian dolar AS untuk menanggulangi pelemahan ini.
Dalam perdagangan terbaru, kurs rupiah sempat menembus Rp 17.900 per dolar AS, yang merupakan rekor terendah. Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede, menyatakan bahwa ada kemungkinan rupiah akan menguji level psikologis 18.000 per dolar AS jika kondisi pasar tetap sensitif.
BI menjelaskan bahwa tekanan pada nilai tukar rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor global dan domestik. Ketidakpastian dari konflik Timur Tengah dan kebutuhan dolar AS yang tinggi di dalam negeri menjadi penyebab utama. Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, menyatakan bahwa permintaan dolar meningkat, terutama untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen.
Untuk mengatasi masalah ini, BI telah menurunkan ambang batas pembelian valas tanpa underlying dari US$100.000 menjadi US$50.000 per hari per pelaku transaksi, dan akan menurunkannya lagi menjadi US$25.000. Langkah ini diambil untuk mencegah spekulasi di pasar valas.
BI juga berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah dengan melakukan intervensi pasar secara agresif. Di tengah tekanan ini, penting bagi pelaku pasar untuk tidak bertransaksi hanya berdasarkan spekulasi, tetapi dengan bukti kegiatan yang sah.
Dengan langkah-langkah tersebut, BI berharap dapat menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengurangi dampak negatif terhadap daya beli masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan