Media Kampung – Bank Indonesia Buka Suara soal Rupiah Sempat Tembus Rp 17.893 per Dolar AS pada Jumat (29/10/2024) setelah data Bloomberg menunjukkan tekanan nilai tukar yang signifikan. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan faktor-faktor eksternal dan domestik yang mendorong pelemahan tersebut serta strategi intervensi yang sedang dijalankan.
Latar Belakang Tekanan Nilai Tukar
Rupiah memang mengalami fluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir. Pada akhir perdagangan Jumat, kurs sempat menguat kembali menjadi Rp 17.880 per dolar, namun tekanan masih terasa. Ramdan menilai bahwa ketidakpastian global, terutama konflik yang berkelanjutan di Timur Tengah, menambah volatilitas pasar mata uang. Selain itu, kebutuhan valuta asing musiman—seperti pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen—menyerap likuiditas dolar yang masih terbatas.
Strategi Intervensi Bank Indonesia
Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan kehadiran terus‑menerus di pasar “around the world, around the clock”. Intervensi yang dilakukan meliputi:
- Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore untuk menstabilkan ekspektasi pasar.
- Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik sebagai penyeimbang likuiditas.
- Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
Selain itu, BI memperkuat bauran kebijakan moneter dengan menyesuaikan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro‑market, guna meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan menarik aliran modal asing.
Regulasi Baru untuk Pembelian Valas Tunai
Dalam upaya mengontrol arus masuk dolar, BI menetapkan threshold pembelian valas tunai tanpa underlying sebesar USD 25.000 per pelaku per bulan, yang mulai berlaku pada Juni 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan spekulasi berlebih sekaligus memberi ruang bagi kebutuhan riil sektor ekonomi.
Koordinasi dengan Otoritas Terkait
Ramdan menambahkan bahwa Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas pengawas keuangan, termasuk OJK dan Kemenkeu, untuk memantau aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi pada bank dan korporasi. Pendekatan terpadu ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas pasar keuangan secara menyeluruh.
Pengaruh Terhadap Perekonomian Domestik
Pelemahan rupiah berdampak pada harga impor, terutama komoditas seperti energi dan bahan baku industri. Namun, dengan intervensi yang tepat, BI berharap dapat menahan tekanan inflasi dan menjaga daya beli konsumen. Kebijakan moneter yang responsif serta penguatan struktur suku bunga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.
Prospek ke Depan
Bank Indonesia berjanji akan terus memantau perkembangan pasar global dan domestik, serta siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur. Dengan dukungan kebijakan fiskal dan koordinasi lintas lembaga, diharapkan rupiah dapat kembali stabil dalam jangka menengah, mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Kesimpulannya, Bank Indonesia Buka Suara soal Rupiah Sempat Tembus Rp 17.893 per Dolar AS menegaskan komitmen institusinya dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar, regulasi baru, dan kerja sama lintas otoritas. Upaya ini penting untuk mengurangi dampak volatilitas global dan memastikan kelancaran arus perdagangan serta investasi di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan