Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada awal perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, mencapai posisi Rp17.791 per dolar AS. Kondisi ini menandai penurunan sebesar 0,27 persen dibandingkan hari sebelumnya yang ditutup pada Rp17.744 per dolar AS.

Dalam dinamika pasar uang, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS dalam waktu dekat. Analis dari Doo Financial Fixtures, Lukman Leong, menyampaikan bahwa investor masih memilih sikap menunggu dan mengamati perkembangan terkait respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat.

Harapan tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara menjadi faktor penting yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Namun, sejumlah isu krusial di dalam kesepakatan tersebut membuat pasar tetap berhati-hati dan menjaga posisi, sehingga memicu konsolidasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Selain faktor geopolitik, tekanan domestik juga berperan dalam melemahnya rupiah. Jessica Tasijawa, analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa permintaan valuta asing yang meningkat secara musiman menjadi pendorong utama pelemahan rupiah saat ini. Kekhawatiran mengenai pelebaran ketidakseimbangan eksternal dan berlanjutnya arus repatriasi dividen turut menambah tekanan pada nilai tukar.

Meski demikian, pasar obligasi domestik menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun ke posisi 6,69 persen, meski spread antara Indonesia Government Bond dan Obligasi Pemerintah AS masih cukup tinggi. Untuk tenor 10 tahun, spread berada pada 212,7 basis poin, sementara tenor dua tahun mencapai 253,3 basis poin.

Kondisi tersebut memperkuat prediksi bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25 persen hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga daya tarik imbal hasil obligasi dan mendukung masuknya aliran modal ke dalam negeri, terutama pada tenor jangka pendek yang masih dianggap menarik oleh investor.

Pergerakan rupiah yang menurun menjelang libur panjang ini menjadi perhatian pelaku pasar dan pemerintah, mengingat peran penting nilai tukar dalam stabilitas ekonomi nasional. Investor dan pengambil kebijakan terus memantau perkembangan situasi global dan domestik yang berpotensi mempengaruhi pergerakan mata uang nasional.

Dengan latar belakang ketidakpastian geopolitik dan tekanan musiman pada permintaan valas, rupiah diperkirakan masih akan mengalami fluktuasi dalam waktu dekat. Namun, stabilisasi di pasar obligasi dan kebijakan moneter yang hati-hati menjadi faktor penopang untuk menjaga kondisi pasar keuangan tetap terkendali.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah ke posisi Rp17.791 per dolar AS pada Selasa pagi menandai tantangan yang harus dihadapi menjelang libur panjang. Respons pasar terhadap perkembangan perdamaian AS-Iran serta dinamika ekonomi domestik akan menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.