Media KampungBank Indonesia (BI) berencana memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT) ke beberapa negara, termasuk Arab Saudi, guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Langkah ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi mata uang dan peningkatan efisiensi transaksi yang telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, menjelaskan bahwa penggunaan LCT memungkinkan transaksi dilakukan langsung dengan mata uang domestik masing-masing negara, tanpa harus melalui dolar AS sebagai perantara. “Penggunaan LCT mendorong diversifikasi mata uang, bahwa tidak semua transaksi harus menggunakan dolar AS. Bukannya tidak mau pakai dolar AS, tapi untuk negara-negara yang transaksinya bisa langsung dengan mata uang domestik, kenapa harus pakai dolar?” ujar Ruth saat acara BI di Makassar pada 22-24 Mei 2026.

Ruth juga menambahkan bahwa jika transaksi harus melalui dolar, maka prosesnya menjadi berputar-putar dan melibatkan perantara (middleman) yang membuat transaksi kurang efisien. Dengan LCT, biaya transaksi dapat ditekan dan pasar mata uang lokal di tingkat regional dapat berkembang lebih baik. Selain itu, LCT juga meningkatkan akses pelaku pasar dalam menggunakan mata uang lokal.

Berdasarkan data BI hingga April 2026, volume transaksi menggunakan LCT mencapai USD 22,61 miliar, meningkat drastis sebesar 309 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 7,33 miliar. Negara-negara utama mitra LCT Indonesia adalah Tiongkok dengan 89 persen distribusi transaksi, Jepang 6 persen, dan Malaysia 3 persen.

Jumlah pelaku yang menggunakan LCT juga menunjukkan tren positif dengan mencapai 5.265 pelaku per bulan pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan dampak positif LCT bagi para pelaku pasar keuangan. Saat ini, Indonesia telah menjalin kemitraan LCT dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, dan Uni Emirat Arab.

Ke depan, BI akan mendorong pengembangan LCT ke negara-negara lain seperti Singapura, India, dan Arab Saudi. Dukungan terhadap langkah ini juga disampaikan oleh Kepala Ekonomi Permata Bank, Josua Pardede, yang mendorong BI agar memperluas penggunaan LCT terutama dengan bank sentral negara mitra. “Saya juga menyuarakan LCT, penggunaannya harus lebih digalakkan,” ujar Josua yang menilai perlu ada dorongan lebih kuat dari BI agar bank sentral negara lain turut aktif mensosialisasikan penggunaan LCT kepada para stakeholder mereka.

Pengembangan LCT ini menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko ketergantungan pada dolar AS, sekaligus memperkuat posisi mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Dengan makin banyaknya negara yang menggunakan LCT, diharapkan transaksi antarnegara berjalan lebih efisien dan stabil.

Bank Indonesia terus memantau perkembangan implementasi LCT serta memperluas kerjasama dengan berbagai negara untuk mendukung kebijakan diversifikasi mata uang ini. Melalui langkah strategis ini, diharapkan Indonesia dapat memperkuat kedaulatan ekonomi dan meningkatkan daya saing di pasar global.

Secara keseluruhan, pengembangan penggunaan Local Currency Transaction oleh BI ke negara-negara baru seperti Arab Saudi menandai kemajuan penting dalam upaya memperkuat ekonomi domestik dan mempererat kerja sama ekonomi regional serta internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.