Media KampungNilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan hari ini, melemah ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat. Data Bloomberg mencatat rupiah turun sekitar 0,15 persen atau 27 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

Posisi rupiah saat ini menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di kawasan Asia. Kondisi ini dipengaruhi oleh sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri yang masih membayangi pergerakan pasar valuta asing.

Dari sisi internasional, ketidakpastian atas kelanjutan proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memberikan tekanan tersendiri bagi rupiah. Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa upaya kesepakatan tersebut tampaknya menemui jalan buntu karena Iran belum bersedia menandatangani kesepakatan tersebut. Dua isu utama yang menjadi penghambat adalah masalah pengayaan uranium dan tuntutan Iran agar embargo dana yang dibekukan segera dicabut.

Selain itu, pejabat bank sentral AS, The Fed, juga memberikan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi di Amerika Serikat tetap tinggi. Pernyataan ini disampaikan oleh Christopher Waller dan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Ibrahim menambahkan bahwa Warsh tidak meremehkan tantangan inflasi dan berpotensi menaikkan suku bunga sebagai langkah antisipasi.

Pelaku pasar saat ini tengah menantikan sejumlah data ekonomi penting dari AS yang akan dirilis dalam pekan ini, seperti data Produk Domestik Bruto kuartal pertama tahun 2026, data sektor perumahan, serta indeks harga pengeluaran untuk konsumsi pribadi. Data-data tersebut dinilai krusial untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya di Amerika Serikat.

Jika dibandingkan dengan mata uang negara lain di kawasan, rupiah menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan. Misalnya, ringgit Malaysia menguat sekitar 0,29 persen, baht Thailand naik 0,71 persen, dan peso Filipina mengalami penguatan 0,52 persen. Hal ini menunjukkan rupiah masih tertinggal dalam pergerakan nilai tukar regional.

Ibrahim memprediksi lembaga pemeringkat seperti S&P Global kemungkinan akan menurunkan peringkat kredit Indonesia jika kebijakan yang kurang mendukung pasar ini terus berlanjut. Penurunan peringkat tersebut dapat memperburuk sentimen pasar dan mendorong pelemahan rupiah lebih dalam lagi.

Secara keseluruhan, rupiah menghadapi tekanan dari berbagai arah baik eksternal maupun internal. Selanjutnya, pasar akan terus memantau perkembangan negosiasi internasional dan data ekonomi AS, serta kebijakan dalam negeri yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.