Media Kampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah melibatkan lebih dari 57.000 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai pemasok, sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengungkapkan data tersebut sebagai bukti bahwa program MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi, namun juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berdampak luas.
Dari data yang dihimpun, sekitar 57.600 UMKM terlibat dalam memasok berbagai kebutuhan dapur MBG. Selain itu, program ini juga melibatkan 12 ribu koperasi, lebih dari 1.300 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta sekitar 64 ribu pemasok lainnya. Koperasi Desa Merah Putih pun turut berperan dengan 662 unit yang masuk ke dalam rantai pasok program tersebut.
Maman menjelaskan keberagaman pemasok yang terlibat mencakup bahan baku kering seperti minyak goreng, tepung, dan kecap, hingga bahan segar seperti beras, telur, ayam, tempe, tahu, sayur, dan buah. Tidak hanya itu, kebutuhan operasional dapur seperti sabun cuci, air bersih, dan gas juga dipasok oleh pihak-pihak terkait guna mendukung kelancaran pelaksanaan MBG.
Lebih lanjut, Menteri UMKM menuturkan bahwa pengelola dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) biasanya didominasi oleh pengusaha menengah karena modal yang dibutuhkan cukup besar. Sementara pelaku usaha mikro dan kecil lebih banyak berperan dalam rantai pasok, sehingga keterlibatan mereka perlu dipastikan terbuka luas dan terus diawasi agar memberikan manfaat optimal.
“Pemilik dapur rata-rata adalah pengusaha menengah karena secara finansial tidak memungkinkan usaha mikro atau kecil untuk mengambil peran tersebut,” ujar Maman saat ditemui di Jakarta, Selasa (19/5/2026). Ia menambahkan, yang menjadi perhatian utama adalah sejauh mana pelaku usaha mikro dan kecil dapat terlibat secara maksimal dalam proses rantai pasok MBG.
Meski begitu, Maman juga mengakui bahwa program MBG masih memiliki sejumlah catatan yang harus diperbaiki. Namun, ia mengajak masyarakat untuk melihat program ini secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari sisi kekurangan, tetapi juga potensi dampak positif yang bisa dihasilkan.
“Program MBG berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru dengan perputaran dana yang diperkirakan mencapai Rp300 triliun pada tahun ini,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa MBG tidak hanya menjadi solusi untuk memperbaiki gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi di tingkat lokal.
Dengan keterlibatan ribuan UMKM dan koperasi, MBG berhasil membuka peluang usaha dan lapangan kerja yang berkontribusi pada pemerataan ekonomi. Program ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi model intervensi pemerintah yang efektif dalam mengatasi masalah gizi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan