Media Kampung – Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) resmi menjalin kerja sama strategis dalam upaya optimalisasi lahan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Kolaborasi ini bertujuan memperkuat tridarma perguruan tinggi sekaligus mendorong percepatan swasembada pangan dan energi melalui pengelolaan kawasan hutan pendidikan berbasis agroforestri.

Direktur Strategi dan Sustainability PT SGN, Dimas Eko Prasetyo, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan hasil dari diskusi yang telah berlangsung sejak 2020. Ia menegaskan bahwa pendekatan mutualisme menjadi landasan utama dalam kemitraan tersebut agar memberikan manfaat bagi semua pihak. Dimas berharap model pengelolaan yang diterapkan di KHDTK bisa menjadi contoh bagi kawasan lain dalam mendukung kedaulatan pangan, khususnya untuk komoditas gula dan kemandirian energi, sesuai arahan Menteri Pertanian dan Presiden Republik Indonesia.

Kepala Balai Perlindungan Tanaman Perkebunan Pontianak dari Kementerian Pertanian, Gabriel Lulus Puji Hantoro, menyambut baik inisiatif ini. Ia menilai kolaborasi antara UGM dan PT SGN sangat penting untuk mengakselerasi target swasembada gula nasional pada 2025-2026. Gabriel menyampaikan bahwa lahan tebu di KHDTK dipandang sebagai pilot project yang strategis dan memiliki potensi besar untuk menjadi percontohan pengelolaan lahan yang menghasilkan dampak nyata bagi berbagai pihak.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, mengungkapkan bahwa pengelolaan lahan KHDTK yang luas memang menghadirkan tantangan besar, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan yang berkelanjutan dan inklusif. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya UGM dalam menjawab berbagai tantangan nasional yang kompleks.

Danang juga menyoroti pentingnya mencari solusi ketahanan pangan dan energi di tengah ketergantungan impor serta dinamika politik global yang tidak menentu. UGM saat ini memiliki tim riset yang mengembangkan biodiesel, bioetanol, dan energi hidrogen, serta melibatkan 18 fakultas dan 2 sekolah dalam kajian kebijakan, dampak fiskal, dan aspek kelembagaan secara komprehensif. Ia menyatakan kesiapan universitas untuk berkolaborasi dalam menemukan solusi bagi tantangan yang dihadapi bangsa.

Kolaborasi antara UGM, Kementan, dan PT SGN ini menjadi langkah konkrit dalam mengoptimalkan potensi lahan KHDTK sebagai kawasan pendidikan sekaligus pusat inovasi agroforestri. Harapannya, pengelolaan lahan tersebut tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada kemandirian pangan dan energi nasional yang semakin mendesak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.