Media Kampung – Banyuwangi mencatat surplus produksi beras sebesar 174.005 ton pada semester pertama 2026. Angka tersebut diperoleh dari total produksi beras mencapai 255.257 ton, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat di periode yang sama hanya 81.252 ton. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut capaian ini sebagai bukti kinerja sektor tanaman pangan yang tetap terjaga.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan bahwa produksi beras daerahnya secara konsisten selalu surplus dari tahun ke tahun. “Alhamdulillah kinerja baik bidang pertanian khususnya tanaman pangan Banyuwangi bisa terus kami pertahankan. Produksi beras Banyuwangi dari tahun ke tahun selalu surplus. Begitu juga di semester awal tahun 2026 ini,” ujar Ipuk.
Pada tahun 2025, Banyuwangi juga mencatat surplus beras yang jauh lebih besar. Sepanjang tahun lalu, total produksi beras mencapai 546.923,81 ton, sedangkan konsumsi masyarakat sebesar 163.665,78 ton. Selisih keduanya menghasilkan surplus beras sebesar 383.258,03 ton.
Distribusi Surplus ke Daerah Lain
Sebagian surplus produksi beras Banyuwangi didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia melalui Perum Bulog. Langkah ini dilakukan untuk mendukung cadangan pangan nasional. “Surplus beras produksi Banyuwangi sebagian didistribusikan ke berbagai daerah lain di Indonesia guna menopang cadangan pangan nasional melalui Perum Bulog,” jelas Ipuk.
Strategi Peningkatan Produksi
Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Danang Hartanto, menjelaskan bahwa surplus produksi beras merupakan hasil dari berbagai strategi yang diterapkan pemerintah daerah bersama para petani. Salah satu langkah utama adalah mengoptimalkan luas tanam. Meskipun luas baku sawah Banyuwangi tercatat 62.940 hektare, optimalisasi pemanfaatan lahan mampu meningkatkan luas tanam hingga mencapai 121.319 hektare pada 2025.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) melalui intensifikasi lahan. Sawah yang sebelumnya hanya ditanami padi satu hingga dua kali dalam setahun kini dapat ditanami tiga sampai empat kali setiap tahun. Upaya lain dilakukan melalui penerapan mekanisasi pertanian dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. Pemerintah daerah juga memfasilitasi petani melalui penerbitan rekomendasi pembelian BBM solar untuk mendukung operasional peralatan pertanian.
“Dengan mekanisasi membantu mempercepat proses masa tanam hingga panen raya, sehingga menekan risiko gagal panen atau kerugian pascaproduksi,” ujar Danang.
Melalui berbagai strategi tersebut, surplus produksi beras Banyuwangi terus terjaga dan menjadi salah satu penopang pasokan pangan, baik untuk memenuhi kebutuhan daerah maupun mendukung cadangan pangan nasional.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan