Modal Bukan Penghalang: Lahirnya Medan Prijaji
Media Kampung – Pada awal abad ke-20, hampir semua surat kabar di Hindia Belanda dimiliki oleh orang Eropa atau peranakan Tionghoa. Bahasa, kepentingan, dan pembaca yang mereka layani bukanlah bumiputra. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, mantan mahasiswa STOVIA yang beralih profesi menjadi jurnalis dan organisator, ingin mengubah keadaan itu. Pada 1 Januari 1907, ia menerbitkan Medan Prijaji di Bandung. Nama itu berarti ‘arena para priyayi’, namun isinya jauh dari sekadar berita kalangan atas: pembelaan terhadap nasib rakyat kecil, kritik terhadap pejabat korup, dan ajakan untuk bersatu. Tidak ada surat kabar lain yang berani melakukan itu, karena bergantung pada iklan pengusaha Eropa.
Patungan Ala Priyayi dan Pedagang Muslim
Modal awal Medan Prijaji sebesar fl.3.500, padahal biaya operasional mencapai fl.7.500 per tahun. Surat kabar ini lahir dalam kondisi defisit. Modal pertama fl.1.000 datang dari Raden Mas Temenggoeng Pandji Arjodinoto, Kepala Jaksa di Cirebon, yang percaya bumiputra perlu memiliki suara sendiri. Ketika Tirto merencanakan terbitan kedua bernama Soeloeh Keadilan, Raden Adipati Aria Prawiradiningrat menyumbang fl.1.000 untuk membiayai dua terbitan. Tidak ada kontrak bisnis atau perjanjian bagi hasil; yang ada hanyalah keyakinan bersama bahwa kaum bumiputra sudah terlalu lama tidak punya suara. Pada Agustus 1907, Haji Mohd. Arsad, pedagang Muslim dari Batavia, bergabung sebagai mitra bisnis. Ini memperluas basis pendukung dari priyayi Jawa ke pedagang Muslim. Pada Desember 1908, Tirto mendirikan perusahaan terbatas N.V. Javansche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften Medan Prijaji, dengan target modal fl.75.000 dari 3.000 lembar saham @ fl.25. Saham dijual kepada orang Tionghoa dan Eropa, karena Tirto sadar tidak bisa hanya mengandalkan solidaritas bumiputra.
Modal Sosial, Bukan Kapital
Hampir tidak ada unsur bisnis di balik Medan Prijaji. Tidak ada investor yang menghitung imbal hasil, analisis pasar, atau jaminan keuntungan. Yang ada adalah kepercayaan dan kerelaan berbagi di antara orang-orang yang senasib. Pandji Arjodinoto menyumbang karena percaya bumiputra perlu bersuara. Haji Arsad terlibat karena perjuangan Tirto lebih besar dari bisnis. Ribuan pelanggan membayar langganan bukan hanya untuk informasi, tetapi karena merasa Medan Prijaji adalah milik mereka. Pers pribumi pertama tidak lahir dari modal kapital, melainkan dari modal sosial: jaringan kepercayaan, solidaritas, dan keyakinan bersama bahwa bangsa yang tidak punya suara adalah bangsa yang tidak sepenuhnya ada.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan