Media Kampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui dapur sederhana di lingkungan masyarakat kini semakin diperkuat sebagai penggerak ekonomi lokal. Diskusi bertajuk “Dampak Dapur SPPG MBG dalam Masyarakat Sekitar” yang diselenggarakan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada 14 Mei 2026 menyoroti peran dapur MBG yang lebih dari sekadar penyedia makanan bergizi bagi warga.

Acara tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, seperti Herry Yanson dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Sahat Manalu sebagai Ketua Yayasan dan SPPG, Dr. Nikendarti H. Gandini dari Badan Gizi Nasional, serta M. Nurman dari Badan Informasi Geospasial. Mereka bersama-sama membahas bagaimana dapur komunitas MBG mampu menciptakan rantai ekonomi baru yang berdampak langsung pada masyarakat sekitar.

Ketua Umum Laskar Prabowo 08, Devi Taurisa, mengemukakan bahwa masyarakat perlu melihat Program MBG lebih luas daripada hanya pembagian makanan bergizi. Menurutnya, program ini membangun ekosistem sosial dan ekonomi yang berkelanjutan dengan memberikan peluang kerja dan memberdayakan pelaku usaha lokal.

Para narasumber menjelaskan bahwa setiap dapur MBG mampu menyerap antara 30 hingga 50 tenaga kerja dari lingkungan sekitar, termasuk ibu rumah tangga dan keluarga prasejahtera. Hal ini membuka kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga setempat.

Selain itu, kebutuhan bahan baku dapur seperti beras, telur, ayam, daging, dan sayuran didominasi dari petani, peternak, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal. Model pengadaan ini mendekatkan perputaran ekonomi kepada masyarakat dan memberikan pasar yang stabil bagi pelaku usaha kecil.

Pemerintah menilai pendekatan ini efektif dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis wilayah sekaligus memperpendek rantai distribusi. Penggunaan data dan teknologi pemetaan geospasial juga menjadi bagian penting agar Program MBG tepat sasaran dan menjangkau wilayah yang benar-benar membutuhkan.

Dari sisi kesehatan, Program MBG dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Penyediaan makanan bergizi dengan kandungan protein hewani yang terjaga diharapkan dapat membantu menekan angka stunting dan mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Meskipun demikian, pelaksanaan program masih menemui berbagai tantangan, mulai dari distribusi, kesiapan infrastruktur, hingga pengawasan kualitas pangan. Para narasumber menegaskan bahwa evaluasi berkelanjutan akan menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan secara konsisten dalam jangka panjang.

Berawal dari dapur sederhana, Program MBG kini tidak hanya menjadi sarana penyediaan makanan bergizi, tetapi juga wadah pemberdayaan ekonomi dan penguatan sosial di masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak terus dilakukan demi mewujudkan tujuan tersebut secara berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.